Jawa Pos Radar Madiun – Di antara ragam camilan khas Indonesia, kerupuk kulit sapi atau dikenal juga sebagai rambak dan dorokdok, memiliki tempat tersendiri di hati pecinta kuliner tradisional.
Teksturnya yang renyah berpadu dengan rasa gurih khas membuatnya tak hanya jadi kudapan favorit, tapi juga pelengkap setia berbagai hidangan seperti bakso, soto, mie ayam, hingga nasi pecel.
Kerupuk yang satu ini bukan hanya soal rasa, tapi juga soal proses dan nilai tradisi.
Dibuat dari bahan utama kulit sapi, kerupuk ini melewati serangkaian tahapan rumit yang membutuhkan ketelatenan dan keahlian khusus agar menghasilkan kerenyahan sempurna yang menggoda lidah.
Proses Pembuatan Kerupuk Kulit Sapi Cara Tradisional
Rasa otentik kerupuk kulit tak lepas dari cara pembuatannya yang mempertahankan metode tradisional. Berikut adalah tahapan penting yang dilalui:
1. Pemilihan dan Pembersihan Kulit
Kulit sapi segar dibersihkan dari sisa daging dan kotoran. Kualitas kulit sangat menentukan hasil akhir kerupuk.
2. Perebusan untuk Menghilangkan Bau dan Bulu
Kulit direbus untuk melunakkan dan menghilangkan bulu halus yang masih menempel. Perebusan juga membantu mengurangi bau khas kulit mentah.
3. Pengeringan Alami
Setelah direbus, kulit dijemur hingga benar-benar kering. Proses ini penting agar saat digoreng, kerupuk bisa mengembang maksimal dan tidak alot.
4. Pemotongan
Kulit kering kemudian dipotong kecil-kecil sesuai ukuran yang diinginkan. Umumnya berbentuk persegi atau memanjang pipih.
5. Penggorengan
Potongan kulit digoreng dalam minyak panas hingga mengembang dan berubah warna keemasan. Hasilnya adalah kerupuk renyah dengan rasa gurih yang khas.
Kandungan Gizi dan Saran Konsumsi Kerupuk Kulit
Meski dikenal sebagai camilan, kerupuk kulit ternyata menyimpan manfaat gizi:
Editor : Andi Chorniawan