Jawa Pos Radar Madiun – Sekilas terlihat sama, tapi tahukah kamu bahwa cendol dan dawet ternyata dua minuman tradisional yang berbeda?
Keduanya memang tampil dalam warna hijau, disajikan dengan kuah santan dan gula merah, serta kerap dianggap satu jenis.
Namun jika ditelusuri lebih dalam, baik dari bahan, teknik pembuatan, hingga tekstur, cendol dan dawet punya identitas kuliner masing-masing.
1. Asal Daerah dan Jejak Sejarah
Cendol berasal dari wilayah Sunda, terutama Jawa Barat. Sementara dawet punya akar kuat di Jawa Tengah, khususnya dari Banjarnegara yang tersohor dengan dawet ayu.
Perbedaan daerah asal ini juga ikut membentuk karakteristik bahan dan cara penyajian yang khas di masing-masing budaya.
2. Bahan Dasar dan Teknik Pembuatan
Perbedaan paling mencolok terletak pada bahan dasar pembuatannya.
Cendol dibuat dari tepung hunkwe (tepung kacang hijau), menciptakan tekstur kenyal dan padat.
Adonan kemudian dicetak menggunakan alat khusus dengan lubang kecil, menghasilkan bentuk silindris memanjang.
Sebaliknya, dawet terbuat dari tepung beras atau tepung beras ketan, menghasilkan tekstur yang lebih lembut namun tetap kenyal.
Proses pembuatannya umumnya menggunakan saringan berlubang yang digoyang di atas air dingin, sehingga membentuk dawet yang lebih pendek dan runcing di ujungnya.
3. Tekstur, Rasa, dan Penyajian
Karakter rasa keduanya juga berbeda. Cendol terasa padat dengan kenyal yang kuat, cocok dipadukan dengan topping seperti nangka, durian, hingga alpukat yang memperkaya cita rasa.
Biasanya disajikan bersama santan segar dan sirup gula merah yang legit. Sementara dawet menyuguhkan tekstur lembut dengan sensasi lumer di mulut.
Dawet sering kali disajikan bersama tape ketan dan kuah santan dingin, memberi kesegaran ringan yang khas ala pedesaan Jawa.
Warisan Kuliner yang Wajib Dilestarikan
Meski sering tertukar, baik cendol maupun dawet merupakan bagian penting dari kekayaan kuliner Nusantara.
Perbedaan antara keduanya mencerminkan keragaman tradisi dan bahan pangan lokal di Indonesia.
Di tengah gempuran minuman modern, dua minuman ini masih eksis dan terus digemari karena cita rasa otentik dan filosofi budaya yang menyertainya. (ebo/cor)
Editor : Andi Chorniawan