Jawa Pos Radar Madiun – Bukan hanya rendang yang dimasak berjam-jam, namun ada juga Kue 8 Jam.
Sesuai namanya, proses pengolahan kue tradisional asal Sumatra Selatan ini memakan waktu sangat panjang.
Yakni, delapan jam penuh untuk dikukus, lalu dibakar agar tampilannya kian menggoda.
Kue ini berasal dari warisan dapur bangsawan Palembang yang dulu hanya disajikan dalam acara penting, seperti pernikahan atau syukuran besar.
Disadur dari buku Mustikarasa, resep Kue Delapan Jam merupakan satu dari sedikit resep Indonesia yang tetap setia pada teknik masak asli.
Tanpa pengocokan listrik, tanpa pengembang, hanya bahan-bahan dasar dan kesabaran maksimal.
Bahan Kue 8 Jam (Versi Mustikarasa)
1 gelas telur ayam
1/4 gelas gula pasir
1/4 gelas susu
1/4 gelas margarin atau minyak samin
Cara Membuat Kue 8 Jam
1. Campur Telur dan Gula: Aduk secara manual hanya untuk menghancurkan gula, tidak perlu hingga mengembang.
2. Masukkan Susu dan Margarin: Aduk rata seluruh bahan hingga adonan homogen.
3. Kukus 8 Jam: Tuangkan ke dalam cetakan tahan panas. Kukus dengan api kecil selama delapan jam penuh. Pastikan air kukusan tidak habis—tambah jika perlu.
4. Panggang untuk Finishing: Setelah matang, lanjutkan dengan memanggang kue. Pertama gunakan api bawah untuk mengeringkan, kemudian api atas untuk membentuk warna kecokelatan yang cantik.
Tips
Gunakan cetakan dari aluminium agar panas merata dan tidak cepat gosong.
Simpan air kukusan dalam termos untuk memudahkan pengisian ulang selama 8 jam.
Rasa makin enak jika didiamkan semalaman sebelum disajikan.
Filosofi di Balik Nama “Delapan Jam”
Di balik durasi masaknya yang ekstrem, tersimpan filosofi kesabaran dan ketekunan dari budaya kuliner Melayu.
Memasak kue ini bukan sekadar soal rasa, tapi juga tentang menghormati tradisi dan proses.
Tak heran jika banyak keluarga di Sumsel mewariskan resep ini turun-temurun, sebagai simbol kehangatan dan keikhlasan menyambut tamu.
Kini, kue ini jarang ditemui di pasaran, tapi tetap eksklusif hadir di hajatan keluarga atau pesanan khusus.
Teksturnya yang padat dan legit membuatnya cocok sebagai pengganti brownies dalam hidangan resmi. (dew/cor)
Editor : Andi Chorniawan