Jawa Pos Radar Madiun – Di tengah ragam kuliner tradisional Indonesia yang kaya rasa dan sejarah, ampo mencuri perhatian karena keunikannya.
Camilan satu ini bukan berasal dari bahan umum seperti tepung atau umbi-umbian, melainkan tanah liat alami.
Meski terdengar aneh, ampo telah menjadi bagian dari budaya masyarakat di Tuban, Jawa Timur, serta dikenal pula di wilayah Jawa Tengah dan Cirebon.
Apa Itu Ampo dan Bagaimana Cara Membuat
Ampo dibuat dari tanah liat murni yang lembut dan bebas pasir atau kerikil. Tanah ini biasanya diambil dari lapisan tertentu yang diyakini aman dikonsumsi.
Setelah dipilih, tanah dipadatkan layaknya adonan, lalu diserut tipis-tipis membentuk gulungan kecil seperti keripik.
Gulungan tanah itu kemudian dipanggang di atas api tanpa minyak, bumbu, atau tambahan lainnya.
Proses pemanggangan menggunakan wajan dari tanah liat membuat ampo menjadi kering, renyah, dan siap disantap sebagai camilan tradisional.
Dipercaya Baik untuk Pencernaan
Bukan sekadar makanan unik, ampo diyakini masyarakat memiliki khasiat untuk kesehatan, terutama untuk sistem pencernaan.
Beberapa kepercayaan lokal menyebutkan bahwa tanah liat dapat menyerap racun dalam tubuh dan membantu meredakan gangguan perut.
Meski klaim ini belum banyak diteliti secara ilmiah, keyakinan tersebut tetap hidup sebagai bagian dari pengobatan tradisional.
Punya Nilai Spiritual dan Simbolik
Ampo tidak hanya dikonsumsi, tapi juga memiliki nilai budaya dan spiritual.
Dalam sejumlah upacara adat, ampo dijadikan bagian dari sesaji atau simbol penghormatan kepada bumi.
Kehadirannya mencerminkan filosofi kesederhanaan, kedekatan dengan alam, serta penghormatan terhadap tanah sebagai sumber kehidupan.
Ragam Ampo di Berbagai Daerah
Meski identik dengan Tuban, ampo juga dikenal luas di daerah lain. Di Jawa Tengah dan Cirebon, camilan ini hadir dengan bentuk yang bervariasi namun tetap mempertahankan bahan dasar dan teknik tradisional yang serupa.
Bahkan, di beberapa daerah, ampo dijual sebagai oleh-oleh khas lokal, menandai keberadaan warisan budaya yang masih bertahan di tengah arus modernisasi. (ebo/cor)
Editor : Andi Chorniawan