Jawa Pos Radar Madiun – Di tengah meningkatnya tren hidup sehat dan minat pada makanan lokal, nasi tiwul kembali mendapat sorotan.
Makanan berbahan dasar gaplek atau singkong kering ini tidak hanya menjadi simbol ketahanan pangan pada masa lalu, tetapi juga dikenal kaya gizi dan cocok untuk penderita diabetes serta pelaku diet modern.
Tiwul berasal dari wilayah Gunungkidul, Wonosobo, Trenggalek, hingga Ponorogo. Pada era penjajahan Jepang, saat beras sulit diperoleh, tiwul menjadi penyelamat banyak keluarga.
Kini, nasi tiwul justru dilirik sebagai superfood lokal yang menyehatkan dan ramah lingkungan.
Proses Tradisional yang Sarat Makna
Pembuatan nasi tiwul dimulai dari singkong tua yang dikupas, diparut, diperas, lalu dijemur hingga kering menjadi gaplek.
Gaplek ini kemudian ditumbuk hingga halus, dibasahi, dibentuk seperti butiran nasi, dan dikukus hingga matang.
Hasil akhirnya adalah nasi dengan tekstur lembut dan kenyal, serta aroma khas singkong yang menggoda selera.
Proses ini masih dilestarikan oleh banyak pelaku usaha kecil di pedesaan, menjadikannya warisan kuliner yang terus hidup.
Variasi Sajian Tradisional dan Modern
Nasi tiwul sangat fleksibel untuk dikombinasikan dengan berbagai lauk:
Urap sayur, ikan asin, tempe bacem, ayam kampung, sambal terasi.
Bahkan kini, nasi tiwul hadir dalam varian kreatif seperti:
Tiwul balado, tiwul goreng crispy, tiwul instan kemasan, praktis dan tahan lama untuk dibawa ke mana saja.
Manfaat Gizi yang Luar Biasa
Tidak hanya mengenyangkan, nasi tiwul rendah gula dan tinggi serat, membuatnya cocok untuk penderita diabetes dan pelaku diet. Kandungan gizinya mencakup:
Vitamin B kompleks & vitamin C: menunjang metabolisme dan daya tahan tubuh
Kalsium & fosfor: memperkuat tulang
Zat besi: cegah anemia
Serat alami: bantu pencernaan dan turunkan kolesterol
Tak heran jika tiwul juga dipercaya secara tradisional dapat meringankan maag dan mengurangi perut kembung.
Simbol Kesederhanaan yang Kini Dihargai Tinggi
Dulu dianggap makanan rakyat biasa, kini nasi tiwul mendapat tempat di restoran, festival kuliner, hingga e-commerce.
Banyak pelaku UMKM memasarkan tiwul sebagai pangan lokal bernutrisi dan ramah lingkungan.
Bentuknya pun kian bervariasi: dari tiwul segar siap santap hingga produk instan kemasan modern yang bisa dimasak dalam hitungan menit. (ebo/cor)
Editor : Andi Chorniawan