Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Sejarah dan Makna Bacang yang Jarang Diketahui, Bukan Sekadar Ketan Bungkus!

Eric Wibowo • Selasa, 22 Juli 2025 | 01:44 WIB
Ilustrasi bacang yang menyimpan warisan budaya.
Ilustrasi bacang yang menyimpan warisan budaya.

Jawa Pos Radar Madiun – Siapa yang tak kenal bacang? Makanan berbentuk limas dari beras ketan yang dibungkus daun bambu ini bukan sekadar camilan gurih.

Dalam setiap gigitannya tersimpan kisah sejarah, makna budaya, dan jejak warisan leluhur masyarakat Tionghoa.

Bacang, atau zongzi dalam bahasa Mandarin, punya akar sejarah kuat di Tiongkok. Konon, makanan ini pertama kali dibuat untuk mengenang Qu Yuan, penyair dan negarawan yang mengorbankan diri demi bangsanya.

Warga kala itu melemparkan bacang ke sungai agar ikan tidak memakan jasadnya. Tradisi ini pun berkembang menjadi bagian penting dari Festival Pechun (Duanwu) atau Festival Perahu Naga.

Di Indonesia, bacang menjadi simbol keakraban dan tradisi masyarakat Tionghoa, terutama saat perayaan budaya atau hari besar seperti Imlek dan Peh Cun.

Bentuk limasnya diyakini menyimbolkan keharmonisan, rezeki, dan harapan baik dalam keluarga.

Seni Meracik Rasa dalam Daun Bambu

Pembuatan bacang tidak bisa sembarangan. Beras ketan harus direndam semalaman agar pulen dan mudah dibentuk.

Sementara isiannya bisa berupa daging babi berbumbu, ayam, jamur, kacang, atau versi vegetarian yang berbasis nabati.

Semua bahan tersebut dimasak terlebih dahulu agar cita rasanya menyatu saat dikukus.

Tak kalah penting, daun bambu bukan hanya sebagai pembungkus. Aromanya yang khas justru memperkuat karakter bacang.

Setelah dibungkus dan diikat dengan rapi, bacang dikukus selama beberapa jam hingga matang sempurna.

Varian Modern Tanpa Tinggalkan Cita Rasa Asli

Di era modern, bacang hadir dalam berbagai varian. Bacang ayam dan vegetarian populer sebagai alternatif yang lebih inklusif.

Beberapa bahkan menambahkan inovasi seperti isian telur asin, rendang, hingga bakso.

Meski isiannya bervariasi, benang merah rasa bacang tetap sama: gurih, wangi, dan penuh rempah.

Cita rasa autentiknya menjadi alasan mengapa bacang tetap digemari lintas generasi.

Mudah Didapat, Mudah Dibuat

Kini bacang bisa ditemukan dengan mudah, mulai dari toko kue tradisional, restoran Tionghoa, hingga pasar modern dan platform jual beli online. Harganya pun beragam tergantung ukuran dan isian.

Bagi yang tertarik mencoba membuat sendiri, resep dan tutorial bacang banyak tersedia di internet.

Proses membungkus mungkin butuh latihan, tapi hasil akhirnya sepadan: pengalaman kuliner yang menyentuh akar tradisi. (ebo/cor)

Editor : Andi Chorniawan
#filosofi #Daun Bambu #Tionghoa #budaya #makanan #bacang