Jawa Pos Radar Madiun – Di balik kesederhanaan tampilannya, pecel pitik menyimpan warisan budaya yang begitu dalam.
Hidangan khas masyarakat Osing, suku asli Banyuwangi, ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol spiritual dan sosial yang masih bertahan hingga kini.
Awalnya, pecel pitik hanya hadir dalam momen-momen sakral. Makanan ini menjadi sajian utama saat selametan, ritual tolak bala, hingga peringatan hari besar keagamaan.
Kehadirannya bukan semata karena rasa, melainkan karena makna: simbol syukur kepada alam dan Sang Pencipta.
Cara Membuat
Yang membuat pecel pitik begitu istimewa adalah proses pembuatannya yang sarat filosofi.
Ayam kampung muda yang masih utuh dibakar di atas bara api tanpa dipotong.
Bukan tanpa alasan, ini mencerminkan nilai keutuhan dan persatuan dalam masyarakat.
Setelah matang, daging ayam disuwir dengan tangan kosong, bukan pisau. Proses ini dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap makanan dan simbol kesederhanaan hidup.
Kemudian, ayam yang telah disuwir akan dicampur dengan bumbu kelapa berbasis rempah tradisional.
Parutan kelapa muda dipadu dengan cabai rawit, kemiri, terasi, daun jeruk, dan gula merah, menghasilkan rasa gurih pedas yang khas, dengan aroma rempah yang menggoda.
Adonan bumbu ini tak hanya membungkus rasa, tapi juga membungkus nilai budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Primadona Wisata Kuliner
Kini, pecel pitik tak lagi eksklusif disajikan dalam upacara adat. Sejumlah rumah makan di Banyuwangi mulai menyajikannya sebagai menu unggulan, terutama bagi wisatawan yang ingin menyelami rasa otentik khas ujung timur Pulau Jawa.
Meski begitu, dalam banyak komunitas adat Osing, pecel pitik tetap dijaga kesakralannya dan hanya diolah dalam momen-momen tertentu.
Tak berlebihan bila dikatakan bahwa pecel pitik adalah kuliner yang menyeberang antara rasa dan nilai.
Cara pandang masyarakat Osing terhadap makanan bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi juga untuk menjaga harmoni dengan alam dan sesama.
Bagi generasi muda, pecel pitik bukan sekadar sajian lezat. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap resep kuno, tersimpan identitas, cerita, dan warisan yang layak dijaga. (ebo/cor)
Editor : Andi Chorniawan