Jawa Pos Radar Madiun – Surabaya memang pantas dijuluki surga kuliner Jawa Timur.
Dari sekian banyak makanan tradisionalnya, Semanggi Surabaya selalu punya tempat istimewa di hati masyarakat, bahkan pernah menjadi favorit Presiden pertama RI, Ir. Soekarno.
Tak hanya soal rasa, makanan ini sarat nilai sejarah dan menjadi bagian penting identitas kuliner lokal.
Apa Itu Semanggi Surabaya?
Semanggi Surabaya adalah hidangan legendaris berbahan utama daun semanggi (tanaman air yang mirip daun pegagan), dipadukan dengan tauge dan daun pepaya muda yang dikukus, kemudian disiram sambal pecel khas Surabaya.
Yang unik, makanan ini disajikan di atas daun pisang, dan dimakan tanpa sendok—cukup dengan kerupuk puli sebagai alat dan sekaligus lauknya.
Bahan-Bahan Semanggi Surabaya:
• 1 ikat daun semanggi (bisa diganti daun pegagan)
• 1 genggam tauge
• 1 ikat daun pepaya muda
• Daun pisang untuk alas
• Kerupuk puli
Sambal Pecel Khas Semanggi:
• 100 gram kacang tanah, goreng
• 2 siung bawang putih
• 3 buah cabai rawit (atau sesuai selera)
• 2 lembar daun jeruk
• 1 ruas kencur (±3 cm)
• 1 sdm gula merah, sisir halus
• 1/2 sdt garam
• 1/2 sdt asam jawa (larutkan dengan sedikit air)
• Air matang secukupnya
Cara Membuat Semanggi Surabaya:
• Rebus Sayuran:
Cuci bersih daun semanggi, tauge, dan daun pepaya. Kukus sampai layu dan tiriskan.
• Sambal Pecel:
Haluskan kacang tanah bersama bawang putih, cabai, daun jeruk, dan kencur. Tambahkan gula merah, garam, air asam jawa, dan air matang sedikit demi sedikit hingga jadi saus kental.
• Penyajian:
Tata sayuran rebus di atas daun pisang. Siram dengan sambal pecel, sajikan bersama kerupuk puli.
Semanggi Surabaya: Favorit Bung Karno, Cermin Cinta Rakyat
Semanggi Surabaya bukan sekadar makanan biasa. Dalam kisah para ajudan, Ir. Soekarno selalu menyempatkan menikmati semanggi saat berkunjung ke Surabaya.
Baginya, kuliner rakyat seperti semanggi adalah lambang kekuatan dan karakter bangsa Indonesia.
Tak heran, kuliner ini masih bertahan hingga kini, menjadi bukti cinta masyarakat Surabaya terhadap warisan nenek moyang.
Resepnya sederhana, bahan mudah ditemukan, namun rasa dan nilai sejarahnya tidak tergantikan.
Menyantap semanggi Surabaya seperti kembali ke masa lalu, merasakan kesederhanaan yang membangun bangsa. (chi/ota)
Editor : Ockta Prana Lagawira