Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Gathot Khas Gunungkidul, Makanan Hitam dari Singkong yang Kini Jadi Camilan Buruan Wisatawan

Eric Wibowo • Kamis, 24 Juli 2025 | 00:38 WIB
Ilustrasi gathot makanan khas Gunungkidul.
Ilustrasi gathot makanan khas Gunungkidul.

Jawa Pos Radar Madiun – Tidak semua makanan enak berasal dari dapur mewah. Gathot, camilan sederhana berwarna hitam menjadi ikon kuliner khas Gunungkidul. 

Terbuat dari singkong kering yang difermentasi secara alami, gathot adalah simbol ketahanan pangan masyarakat pedesaan daerah itu.

Meski tampilannya jauh dari kesan mewah, rasanya bisa bersaing dengan jajanan kekinian: kenyal, gurih, manis, dan aromatik.

Dari Gaplek Jadi Gathot 

Asal-usul gathot tidak bisa dilepaskan dari kisah masa paceklik yang pernah melanda masyarakat Gunung Kidul.

Di tengah keterbatasan pangan, beras digantikan dengan gaplek—yaitu singkong yang dikeringkan.

Gaplek ini kemudian difermentasi secara alami dan dikukus menjadi gathot.

Menariknya, fermentasi ini tidak disengaja, tetapi terjadi karena gaplek disimpan terlalu lama.

Warna kehitaman dan aroma khasnya muncul dari aktivitas bakteri asam laktat yang justru membuat rasanya makin legit dan teksturnya kenyal saat dikukus.

Cita Rasa Unik 

Gathot biasanya disajikan dengan taburan kelapa parut dan sedikit garam atau gula, tergantung selera.

Teksturnya kenyal seperti agar-agar alami, sementara rasa manis-gurihnya berasal dari perpaduan bahan-bahan sederhana yang dimasak dengan teknik tradisional.

Karena tampilannya yang unik—berwarna hitam pekat—gathot sering menarik perhatian wisatawan yang belum mengenalnya.

Namun setelah sekali coba, banyak yang ketagihan dan membelinya sebagai oleh-oleh khas Gunung Kidul.

Simbol Kebanggaan Daerah

Di pasar tradisional hingga festival kuliner lokal, gathot tampil sebagai menu unggulan.

Bahkan, banyak UMKM kuliner yang mengembangkan gathot menjadi camilan instan dalam kemasan modern.

Melalui olahan ini, mereka membuktikan bahwa pangan lokal bisa menjadi sumber gizi, budaya, sekaligus kebanggaan daerah.

Di tengah tren makanan cepat saji dan jajan kekinian, gathot tetap bertahan. Upaya pelestariannya kini semakin didukung oleh komunitas kuliner tradisional dan pemerintah daerah.

Gathot tidak hanya disajikan sebagai camilan, tetapi juga diangkat dalam konten edukasi, festival makanan, hingga wisata kuliner tematik.  

Jika berkunjung ke Gunungkidul, jangan lewatkan mencicipi gathot asli dari dapur warga.

Rasanya tidak akan mengecewakan—dan kamu pun ikut merasakan sepotong sejarah dan perjuangan dalam satu suapan kenyal nan lezat. (ebo/cor)

Editor : Andi Chorniawan
#Gathot #singkong #gunungkidul #camilan