Jawa Pos Radar Madiun – Tak banyak yang tahu bahwa biji kecil dari pohon liar bernama lamtoro atau petai cina bisa disulap menjadi lauk bernutrisi tinggi.
Tapi di Gunungkidul, biji itu justru diolah menjadi tempe mlanding, sebuah hidangan tradisional yang sederhana namun mengandung nilai gizi tinggi dan warisan budaya yang kuat.
Dengan proses fermentasi seperti tempe kedelai, tempe mlanding menyajikan rasa khas—padat, gurih, dan sedikit getir—yang membuatnya istimewa di mata masyarakat lokal.
Kini, makanan yang dulunya hanya dikenal di pedesaan ini mulai naik kelas dan dilirik oleh pasar kuliner modern.
Dari Petai Cina ke Tempe Padat Bergizi Tinggi
Tempe mlanding dibuat dari biji lamtoro, tanaman yang tumbuh subur di kawasan perbukitan dan pekarangan rumah warga.
Setelah dibersihkan dan direbus hingga empuk, biji tersebut diberi ragi tempe lalu difermentasi selama 1–2 hari.
Hasil akhirnya adalah tempe bertekstur lebih padat dibanding tempe kedelai, dengan warna kecokelatan dan aroma khas fermentasi yang menggoda.
Masyarakat Gunungkidul menyebut tempe ini sebagai simbol kemandirian pangan yang diwariskan turun-temurun.
Kaya Protein, Aman di Kantong
Jangan remehkan ukurannya yang kecil. Tempe mlanding punya kandungan protein nabati hingga 30 persen, serta mengandung zat besi dan mikronutrien penting lainnya.
Tak heran bila makanan ini menjadi salah satu solusi sehat dan hemat bagi keluarga pedesaan.
Sebagai alternatif dari protein hewani yang makin mahal, tempe mlanding menjadi pilihan cerdas dan ramah lingkungan.
Rasanya pun cocok untuk berbagai olahan: digoreng, dioseng, dijadikan campuran sayur, hingga camilan.
Melekat dalam Budaya Warga Gunungkidul
Di Gunungkidul, tempe mlanding bukan sekadar lauk pauk. Ia sudah seperti sahabat setia di meja makan warga, dari anak-anak hingga orang tua.
Aromanya yang khas, rasa gurih getirnya yang menggugah, serta teksturnya yang padat membuat makanan ini dicari banyak orang, apalagi saat bulan puasa atau acara keluarga. (ebo/cor)
Editor : Andi Chorniawan