Jawa Pos Radar Madiun – Kalau biasanya kerupuk digoreng dengan minyak panas, berbeda halnya dengan kerupuk mie usek khas Batang, Jawa Tengah.
Camilan tradisional ini justru digoreng menggunakan pasir panas, menciptakan sensasi renyah yang unik dan lebih sehat.
Teknik penggorengan ini tak hanya mempertahankan cita rasa asli, tapi juga menjadikan kerupuk ini ramah lingkungan dan rendah lemak jenuh.
Asal Usul Nama “Mie Usek” yang Bikin Penasaran
Disebut “mie usek” karena bentuknya mirip mie kusut atau acak-acakan. Dalam bahasa Jawa, “usek” berarti diaduk-aduk atau tidak beraturan.
Nama ini merujuk pada bentuk khas kerupuk yang menggulung seperti benang kusut.
Proses Pembuatan Tradisional yang Penuh Ketelatenan
Kerupuk mie usek dibuat dari bahan sederhana seperti tepung tapioka, garam, dan bawang putih.
Setelah diaduk dan dibentuk menyerupai mie, adonan dikeringkan di bawah sinar matahari.
Proses penggorengannya kemudian dilakukan menggunakan pasir panas, bukan minyak goreng.
Pasir ini dipanaskan di atas tungku dan terus diaduk agar kerupuk matang merata tanpa gosong.
Penggunaan pasir bukan hanya sekadar cara masak tradisional, tapi juga menghasilkan tekstur kerupuk yang mengembang sempurna dan renyah tahan lama.
Cocok Jadi Pelengkap Pecel hingga Mie Kenyol
Di kampung halamannya, kerupuk mie usek menjadi pelengkap wajib untuk aneka hidangan seperti pecel Batang dan mie kenyol.
Disantap bersama sambal pecel pedas manis, rasa gurih renyahnya makin terasa. Tak heran, satu kerupuk saja bisa membuat siapa pun ketagihan dan nambah nasi!
Lebih Sehat dari Kerupuk Biasa
Karena tidak digoreng dalam minyak, kandungan lemak trans dan lemak jenuh dalam kerupuk mie usek jauh lebih rendah.
Hal ini menjadikannya alternatif camilan sehat bagi mereka yang ingin mengurangi konsumsi gorengan tanpa mengorbankan rasa.
Selain itu, tidak ada tambahan pewarna atau pengawet, karena semua proses dilakukan secara alami dan manual, menambah nilai gizi dan keamanan konsumsi. (ebo/cor)
Editor : Andi Chorniawan