Jawa Pos Radar Madiun – Jika sedang mencari jajanan khas yang tak sekadar enak tapi juga sarat nilai tradisi, dumbleg dari Nganjuk patut masuk daftar.
Makanan manis yang mirip dodol ini sudah eksis sejak 1942 dan tetap eksis hingga kini, menjadikannya salah satu kuliner tradisional paling lestari di Jawa Timur.
Dumbleg dibuat dari bahan sederhana: tepung ketan, santan, dan gula merah atau gula pasir.
Tapi yang membedakannya adalah kemasan unik dari pelepah pinang, yang memberi aroma khas sekaligus memperkuat nuansa tradisional.
Ada dua varian rasa: manis legit dari gula merah dan gurih ringan dari adonan tanpa gula merah.
Proses memasaknya pun tidak sembarangan. Campuran bahan harus diaduk dan dimasak hingga mengental sempurna.
Setelah itu, adonan dibungkus menggunakan lembaran pelepah pinang yang sudah dibersihkan dan dibentuk, lalu didinginkan hingga padat.
Teknik ini sudah diwariskan lintas generasi, bahkan kini sudah mencapai generasi kelima pembuat dumbleg.
Tak hanya unik dari segi rasa dan kemasan, dumbleg juga punya nilai historis. Pembuatan pertamanya tercatat pada masa penjajahan, sekitar tahun 1942.
Sejak itu, makanan ini bertahan berkat ketekunan para perajin rumahan yang menjualnya di berbagai pasar tradisional seperti Pasar Pon Gondang dan Pasar Kliwon Rejoso.
Meski sederhana, dumbleg kini menjelma menjadi oleh-oleh khas Nganjuk yang digemari wisatawan.
Pembungkusnya yang alami membuat tampilannya menarik, cocok untuk buah tangan yang membawa cerita budaya di dalamnya.
Dumbleg bukan sekadar jajanan pasar. Di balik teksturnya yang kenyal dan cita rasanya yang khas, tersembunyi sejarah panjang dan dedikasi pelestarian budaya.
Jadi, jika Anda mampir ke Nganjuk, jangan lupa cari dumbleg di pasar-pasar tradisional dan rasakan sendiri kenikmatan kudapan yang menyatukan cita rasa dan warisan leluhur. (ebo/cor)
Editor : Andi Chorniawan