Jawa Pos Radar Madiun – Di balik ragam kuliner khas Jawa Timur, nama gulai entok makin mencuri perhatian sebagai sajian lokal yang menggoda selera.
Di Mojokerto, hidangan ini bukan sekadar makanan biasa, tapi bagian dari warisan rasa yang semakin digemari, baik oleh warga lokal maupun wisatawan.
Berbeda dari gulai kebanyakan yang menggunakan ayam atau kambing, versi Mojokerto satu ini memanfaatkan daging entok.
Daging unggas sejenis bebek yang punya tekstur lebih padat dan rasa gurih yang khas itu diperoleh dari peternakan lokal, menjamin kesegaran dan rasa yang autentik, tanpa pengawet.
Cita Rasa Kental Rempah dan Santan
Ciri khas utama gulai entok terletak pada kuahnya yang pekat dan kaya bumbu. Perpaduan kunyit, ketumbar, lengkuas, jahe, dan serai menciptakan aroma yang sedap.
Kuah santan menambah kelembutan rasa sekaligus memperkuat karakter gulai tradisional. Tak heran, sajian ini paling nikmat disantap malam hari, dengan nasi putih hangat yang mengepul.
Favorit di Lesehan Paulina dan Warung Tradisional
Salah satu tempat paling terkenal untuk menikmati gulai entok adalah Lesehan Paulina di Jalan Residen Pamuji, Mojokerto.
Menu ini menjadi primadona, bahkan kerap ludes lebih cepat dari menu lain karena tingginya permintaan. Selain itu, banyak warung lesehan tradisional juga menyediakan gulai entok, terutama mulai sore hingga malam hari.
Harga Terjangkau, Rasa Tak Terlupakan
Meski rasanya mewah, gulai entok dijual dengan harga ramah kantong. Tak perlu khawatir merogoh kocek dalam, cukup dengan belasan ribu rupiah, kamu sudah bisa menikmati porsi lengkap gulai entok lengkap dengan nasi, sambal, dan lalapan.
Penyajian Tradisional yang Menggoda
Biasanya gulai disajikan dalam piring lebar berisi daging entok empuk, disiram kuah kental, dilengkapi nasi putih panas.
Beberapa warung juga menambahkan kerupuk renyah dan sambal pedas, menjadikan hidangan ini semakin komplet dan menggoda. (ebo/cor)
Editor : Andi Chorniawan