Jawa Pos Radar Madiun – Tren seblak sebagai makanan pedas favorit anak muda kian marak di berbagai daerah, termasuk Madiun.
Gurih pedasnya membuat banyak remaja ketagihan.
Namun, ahli gizi memperingatkan konsumsi seblak berlebihan bisa berdampak buruk bagi kesehatan, mulai dari gastritis hingga anemia.
Ketua DPC Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kota Madiun, Kukuh Kristiani, S.Gz, RD, menilai seblak sebenarnya memiliki komposisi gizi cukup lengkap.
"Kerupuk dan mi bisa disebut karbohidrat, ada lauk hewani dari telur, serta tambahan sayur. Bumbunya juga khas lokal, dari kencur, bawang, dan cabai. Masalahnya ada di kadar garam dan tingkat kepedasan," jelas Kukuh, Minggu (7/9).
Menurutnya, makanan pedas berlebih bisa meningkatkan gas dalam lambung hingga memicu gastritis atau radang lambung.
"Kalau level pedasnya dikurangi, seblak masih aman dikonsumsi asal isiannya lengkap," tambahnya.
Kukuh menekankan seblak sebaiknya hanya dikonsumsi 1–2 kali per minggu, bukan sebagai makanan utama.
Ia juga menyarankan agar penggemar seblak lebih banyak mengambil topping sayuran, terutama pada model prasmanan.
"Sayur bersifat basah sehingga bisa membantu meredam asam lambung," sarannya.
Selain gastritis, Kukuh menyebut konsumsi seblak terlalu sering bisa menurunkan asupan protein dan zat besi.
Dampaknya, risiko anemia hingga stunting, terutama bagi perempuan hamil.
"Makanan pedas lain seperti mi level dan ayam geprek yang minim sayur juga bisa memicu perdarahan saluran pencernaan," ungkapnya.
Ia mengimbau masyarakat agar tetap menjaga pola makan seimbang.
"Anggap seblak hanya sebagai camilan, jangan jadi makanan pokok. Imbangi dengan makanan sehat lain," pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto