Jawa Pos Radar Madiun — Jajanan tradisional rujak lotis kini tampil semakin menggoda di berbagai sudut Kota Pelajar.
Perpaduan buah segar, sambal manis-pedas, dan taburan kacang tumbuk khas kini naik kelas dengan tambahan es krim di atasnya.
Sentuhan modern ini menjadikan rujak lotis bukan sekadar camilan tradisional, tapi juga sajian trendi yang digemari anak muda.
Bagi masyarakat Yogyakarta, rujak lotis sudah lama menjadi sahabat di siang yang terik.
Irisan mangga muda, nanas, bengkuang, mentimun, dan jambu air disiram sambal gula merah yang kental dan pedas.
Beberapa tahun terakhir, para penjual mulai berinovasi dengan menambahkan es krim vanila atau cokelat di atasnya.
Tambahan ini memberikan sensasi kontras yang unik—dinginnya es krim berpadu dengan sambal pedas-manis, menciptakan rasa menyegarkan sekaligus menggigit.
Fenomena lotis es krim membuat penjual semakin mudah ditemui. Tak hanya di kawasan populer seperti Kranggan, Tugu, dan Malioboro, tapi juga di sekitar kampus dan kompleks perumahan.
Dengan harga mulai Rp8.000–Rp12.000 per porsi, camilan ini mudah dijangkau semua kalangan.
Varian topping dan tampilannya yang menarik membuatnya sering viral di media sosial—menjadi ikon kuliner sore hari di Jogja.
Rujak lotis bukan sekadar jajanan, tapi cerminan kreativitas dan kesederhanaan masyarakat lokal.
Banyak pedagang yang tetap mempertahankan resep turun-temurun sambil berinovasi agar tetap relevan dengan selera modern.
Di sejumlah titik seperti Jalan Kranggan dan Kotabaru, aroma gula merah bercampur cabai selalu menggoda.
Satu suapan rujak lotis, dengan paduan buah segar dan sambal manis-pedas, seolah jadi ritual kuliner khas sore hari yang tak boleh dilewatkan.
Rujak lotis menawarkan perpaduan rasa manis, pedas, gurih, dan segar yang cocok untuk siapa saja. Tambahan es krim membuatnya lebih disukai generasi muda dan wisatawan.
Lebih dari sekadar makanan, rujak lotis juga menyajikan suasana khas Jogja—menikmatinya di pinggir jalan sambil bercengkerama menghadirkan pengalaman kuliner yang sederhana namun berkesan.
Editor : Ockta Prana Lagawira