Jawa Pos Radar Madiun - Wangi janur yang direbus bersama beras mulai tercium dari dapur-dapur umat muslim di Hari Raya Idul Fitri.
Namun, di balik kelezatannya saat disandingkan dengan opor ayam, Ketupat menyimpan lapisan filosofi spiritual yang luar biasa dalam bagi masyarakat Indonesia, khususnya di tanah Jawa.
Bukan sekadar bungkus nasi, ketupat adalah simbol introspeksi diri dan kembalinya manusia ke fitrah yang suci.
Baca Juga: Kuliner Soto Pinggir Sawah di Kota Madiun yang Jadi Favorit Wali Kota
Ngaku Lepat, Mengakui Kesalahan dengan Rendah Hati
Dalam tradisi Jawa, kata "Ketupat" atau "Kupat" merupakan kependekan dari frasa "Ngaku Lepat" yang berarti mengakui kesalahan.
Makna tradisi ini mengajarkan bahwa momen Lebaran bukan sekadar hura-hura, melainkan keberanian untuk menanggalkan ego, mengakui kekhilafan, dan meminta maaf dengan tulus kepada sesama.
Kerumitan anyaman janur kuning pada kulit ketupat melambangkan kompleksitas dosa dan kesalahan manusia selama menjalani perjalanan hidup.
Baca Juga: Liburan Ala Introvert, Bikin Hati Tenang, Santai, dan Tetap Menyenangkan
Simbol Hati yang Putih Bersih
Pernahkah Anda memperhatikan saat ketupat dibelah? Di balik kulit janur yang hijau kekuningan, terdapat isi yang berwarna putih bersih.
-
Filosofi: Ini adalah simbol hati manusia yang kembali suci setelah sebulan penuh berpuasa dan saling memaafkan.
-
Kepadatan Beras: Tekstur nasi yang padat dan menyatu mencerminkan kekuatan silaturahmi, kemakmuran, serta harapan akan kehidupan yang lebih kokoh di masa depan.
Bentuk Segi Empat: Keseimbangan Hidup
Berbeda dengan gunungan atau tumpeng, ketupat umumnya berbentuk segi empat. Bentuk ini melambangkan prinsip Kiblat Papat Limo Pancer, yang berarti keseimbangan antara arah mata angin dan pusat spiritual manusia.
Ini adalah simbol kesempurnaan hidup setelah berhasil menaklukkan hawa nafsu selama Ramadhan.
Di wilayah Madiun, Ngawi, hingga Ponorogo, masyarakat juga mengenal tradisi Lebaran Ketupat (biasanya dirayakan seminggu setelah Idulfitri).
Momen ini menjadi ajang "puncak" silaturahmi di mana ketupat diantar ke rumah tetangga dan kerabat sebagai simbol perekat persaudaraan yang sempat renggang. (afi/naz)
Editor : Mizan Ahsani