Jawa Pos Radar Madiun - Perayaan Lebaran Ketupat tak lengkap tanpa kehadiran lepet. Makanan tradisional berbahan dasar beras ketan yang dibungkus janur ini kerap disandingkan dengan ketupat sebagai pelengkap sajian.
Namun, di balik rasanya yang gurih, lepet menyimpan makna filosofi yang mendalam.
Lepet dikenal sebagai simbol kebersamaan dan keakraban. Tekstur ketan yang lengket merepresentasikan eratnya hubungan antarsesama manusia.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, hal ini dimaknai sebagai harapan agar tali silaturahmi tetap terjaga kuat setelah Hari Raya Idulfitri.
Baca Juga: Siapa Sangka, Semanggi Liar Lezat Ditumis dan Kaya Manfaat untuk Kesehatan
Selain itu, proses pembuatan lepet yang membutuhkan kesabaran juga mengandung pesan moral. Mulai dari mencuci, merendam, hingga mengukus ketan, semuanya dilakukan dengan telaten.
Filosofi ini mengajarkan pentingnya kesungguhan dan ketekunan dalam menjalani kehidupan.
Tak hanya itu, lepet juga menjadi simbol kerendahan hati.
Disajikan bersama ketupat dan lauk sederhana, makanan ini mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu harus mewah. Justru dari hidangan sederhana, nilai kebersamaan dan rasa syukur semakin terasa.
Baca Juga: Siapa Sangka, Semanggi Liar Lezat Ditumis dan Kaya Manfaat untuk Kesehatan
Dalam tradisi Lebaran Ketupat yang biasanya dirayakan sepekan setelah Idulfitri, kehadiran lepet melengkapi makna saling memaafkan dan mempererat hubungan sosial.
Masyarakat berkumpul, berbagi makanan, serta memperkuat nilai gotong royong yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dengan demikian, lepet bukan sekadar pelengkap hidangan.
Lebih dari itu, ia menjadi simbol perekat kebersamaan dan pengingat akan pentingnya menjaga hubungan baik antarsesama. (afi)
Editor : Mizan Ahsani