Jawa Pos Radar Madiun – Pagi di Kota Solo punya aroma khas yang sulit dijelaskan. Saat warung-warung mulai buka dan uap nasi hangat bercampur aroma sambal kacang tercium dari sudut gang, banyak orang langsung berburu satu menu sederhana yang selalu bikin rindu: pecel.
Meski terkenal dengan nasi liwet dan tengkleng, Solo ternyata juga punya banyak warung pecel legendaris dengan rasa autentik khas Jawa. Menariknya, tiap tempat punya karakter sambal berbeda, mulai dari gurih manis hingga pedas medok yang bikin ketagihan.
Bukan cuma soal rasa, suasana warung pecel di Solo juga punya pengalaman tersendiri. Ada yang tersembunyi di gang kecil, ada pula yang ramai sejak subuh karena jadi langganan pekerja hingga wisatawan.
Berikut rekomendasi pecel legendaris di Solo yang wajib masuk daftar wisata kulinermu.
Pecel Bu Kis, Hidden Gem yang Selalu Ramai Sejak Pagi
Nama Pecel Bu Kis sudah cukup terkenal di kalangan pemburu kuliner pagi di Solo.
Lokasinya memang masuk gang kecil, tetapi justru itu yang membuat suasana makan terasa lebih khas dan tradisional.
Begitu sampai di warung ini, pengunjung biasanya langsung disambut antrean pelanggan yang rela menunggu demi sepiring pecel dengan sambal kacang kental berwarna cokelat pekat.
Rasa sambalnya gurih dengan sentuhan pedas yang pas di lidah. Sayuran rebusnya segar dan cocok dipadukan dengan nasi hangat serta lauk tradisional khas Jawa.
Selain pecel, banyak pelanggan juga memesan nasi tumpang yang menjadi menu favorit di sini.
Jam operasional: 07.00 – 14.00 WIB
Pecel Solo Bu Djito Dlimo, Favorit Wisatawan yang Ingin Suasana Nyaman
Kalau ingin menikmati pecel dengan suasana lebih nyaman dan cocok untuk makan bersama keluarga, Pecel Solo Bu Djito Dlimo bisa menjadi pilihan menarik.
Restoran ini menghadirkan nuansa tradisional Jawa dengan interior kayu dan suasana yang hangat.
Baca Juga: Rekomendasi Tamiya Mini 4WD Terbaik untuk Pemula, Seru Buat Balapan dan Nostalgia
Sambal pecelnya punya rasa gurih manis khas Solo dengan tekstur yang lembut dan mudah menyatu dengan nasi hangat.
Menariknya, pilihan lauk di sini juga sangat lengkap. Mulai empal, sate, babat, hingga aneka gorengan tersedia dan membuat pengalaman makan terasa semakin meriah.
Saat jam makan siang, suasana restoran biasanya cukup ramai oleh wisatawan maupun keluarga lokal yang datang bersama rombongan.
Pecel Bu Reti Jadi Andalan Penumpang Kereta Pagi
Bagi yang pernah turun di kawasan Stasiun Solo Balapan saat pagi hari, nama Pecel Bu Reti mungkin sudah tidak asing lagi.
Warung sederhana ini sering dipadati pelanggan sejak subuh. Banyak penumpang kereta sengaja mampir sebelum melanjutkan perjalanan karena pecelnya terkenal murah, cepat disajikan, dan rasanya konsisten sejak lama.
Sayuran yang digunakan selalu segar dengan sambal kacang yang ringan namun tetap gurih.
Suasana pagi di warung ini terasa sangat khas Solo. Obrolan pelanggan bercampur suara sendok dan aroma pecel hangat membuat pengalaman sarapan terasa sederhana tapi berkesan. Jam operasional: 06.00 – 10.00 WIB
Baca Juga: Mengenal DPF pada Mobil Diesel Modern: Fungsi dan Alasan Wajib Diajak "Lari" di Tol
Pecel Ndeso Bu Ndari Punya Sambal Wijen yang Unik
Kalau ingin mencoba pecel dengan rasa yang sedikit berbeda, Pecel Ndeso Bu Ndari wajib dicoba. Warung yang berada di sekitar kawasan Pasar Gede Solo ini punya ciri khas sambal wijen dengan aroma gurih yang kuat.
Penyajiannya juga masih mempertahankan nuansa tradisional menggunakan daun pisang.
Hal kecil seperti ini justru membuat banyak pengunjung merasa seperti sedang makan di rumah pedesaan Jawa tempo dulu.
Pilihan lauk tradisional seperti karak dan gembrot membuat rasa pecel semakin autentik dan berbeda dari tempat lain.
Pecel Solo Bukan Sekadar Makanan, Tapi Pengalaman Kuliner yang Bikin Rindu
Menikmati pecel di Solo ternyata bukan cuma soal sambal kacang dan sayuran rebus.
Ada suasana pagi yang hangat, aroma dapur tradisional, hingga obrolan khas warung makan yang membuat pengalaman kuliner terasa lebih hidup.
Itulah yang membuat banyak orang selalu ingin kembali berburu pecel legendaris setiap kali datang ke Solo.
Editor : Nur Wachid