Jawa Pos Radar Madiun - Lanskap industri kuliner dan gaya hidup anak muda kini tengah mengalami pergeseran yang menarik. Belakangan ini, kata kunci pencarian seperti "mocktail bar" melonjak signifikan di berbagai mesin pencari. Hal ini didorong oleh meningkatnya kesadaran akan gaya hidup seimbang, di mana banyak orang mencari alternatif tempat nongkrong sehat namun tetap ingin menikmati pengalaman minum yang berkelas.
Menjawab tantangan tersebut, industri kreatif kuliner Tanah Air melahirkan tren kebangkitan mocktail lokal. Jika dulu minuman non-alkohol di kafe hanya identik dengan campuran sirup, soda, dan perasan jeruk nipis, kini standarnya telah naik kelas. Para mixologist lokal mulai menunjukkan keahliannya dengan mengeksplorasi kekayaan alam Nusantara, meracik minuman craft non-alkohol yang serius dan berkarakter.
Baca Juga: 8. Rekomendasi Kuliner Solo: 4 Es Kapal Legendaris Favorit Warga & Rating Tinggi
Bintang utamanya bukan lagi bahan impor, melainkan rempah tradisional dan buah tropis lokal. Bahan-bahan yang tadinya identik dengan jamu—seperti jahe, kunyit, temulawak, serai, hingga kayu secang—kini diekstraksi dan dipadukan dengan teknik penyeduhan modern. Sentuhan buah tropis seperti kecombrang, markisa, hingga belimbing wuluh ditambahkan untuk memberikan profil rasa yang kompleks, menyegarkan, dan unik.
Di tangan para mixologist andal, citra minuman rempah yang kerap dianggap kuno berhasil dirombak total. Minuman disajikan dalam gelas kristal elegan, lengkap dengan garnish estetik, teknik pengasapan (smoking), hingga clarification yang membuat tampilannya jernih bak minuman premium di bar kelas atas.
Baca Juga: Orem-Orem Khas Malang, Kuliner Tradisional Gurih dan Hangat yang Bikin Rindu
Langkah inovatif ini tidak hanya sekadar strategi bisnis kuliner, tetapi juga menjadi medium pelestarian budaya minum rempah dengan kemasan yang relevan bagi Gen Z dan milenial. Menikmati segelas mocktail lokal kini bukan hanya tentang melepas dahaga, melainkan sebuah apresiasi terhadap kekayaan rasa Nusantara dalam balutan gaya hidup masa kini.(*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura
Editor : Mizan Ahsani