Jawa Pos Radar Madiun - Kimchi dari Korea mendapat sorotan dunia. Kombucha dari China kini dijual di kafe-kafe premium Jakarta.
Tapi jauh sebelum fermentasi jadi tren global, nenek moyang kita sudah mengonsumsinya setiap hari dalam bentuk yang lebih beragam dan kaya rasa. Dan sains modern baru saja membuktikan betapa cerdasnya pilihan mereka itu.
Mengapa Makanan Fermentasi Kini Jadi Fokus Ilmu Gizi Modern
Penelitian dari Stanford University yang dipublikasikan dalam jurnal Cell pada 2021 menemukan bahwa diet tinggi makanan fermentasi selama 10 minggu secara signifikan meningkatkan keragaman mikrobioma usus dan menurunkan penanda inflamasi.
Ini bukan sekadar tren ini adalah intervensi kesehatan berbasis bukti.
Harta Karun Fermentasi Indonesia yang Terlupakan
Tempe Lebih dari Sekadar Lauk Murah
Tempe adalah salah satu sumber protein nabati terlengkap di dunia dan satu-satunya makanan nabati yang mengandung vitamin B12 secara alami.
Proses fermentasi kedelai oleh jamur Rhizopus oligosporus meningkatkan bioavailabilitas nutrisi secara dramatis dibanding kedelai mentah.
Baca Juga: Fast Fashion Murah Itu Sebenarnya Sangat Mahal, Cuma Bumi yang Membayarny
Tapai Probiotik dari Singkong atau Ketan
Tapai mengandung berbagai strain bakteri asam laktat dan ragi yang menyehatkan usus.
Proses fermentasinya juga menghasilkan enzim yang membantu pencernaan karbohidrat kompleks, menjadikannya camilan yang lebih bersahabat bagi penderita sensitivitas gluten.
Oncom Si Merah yang Kaya Antioksidan
Oncom merah, khususnya, mengandung pigmen astaxanthin yang merupakan antioksidan kuat.
Dibuat dari ampas tahu yang difermentasi, oncom adalah contoh sempurna bagaimana kecerdasan kuliner lokal mengubah 'limbah' menjadi nutrisi berharga.
Tips Mengintegrasikan Fermentasi dalam Pola Makan Harian
Ganti camilan kemasan dengan tapai atau yogurt plain tanpa gula tambahan. Masukkan tempe dalam setidaknya satu porsi makan sehari.
Eksplorasi asinan betawi sebagai alternatif kimchi lokal. Mulai dengan porsi kecil jika kamu belum terbiasa usus perlu waktu beradaptasi.
Makanan terlezat tidak selalu yang paling mahal. Dan makanan tersehat tidak selalu yang paling eksotis.
Kadang, jawaban terbaik sudah ada di dapur ibumu sejak lama. (*)
*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun