Jawa Pos Radar Madiun - Industri makanan dan minuman hingga kini masih menjadi salah satu sektor usaha yang paling diminati oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Selain dapat dimulai dengan modal yang relatif minim, bisnis kuliner dinilai memiliki potensi besar untuk menjangkau pangsa pasar yang sangat luas.
Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, industri makanan dan minuman menjadi salah satu sektor penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar, yakni mencapai 40,33 persen.
Artinya, para pelaku usaha kuliner dari skala kecil hingga industri raksasa memegang peranan krusial dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.
Berikut adalah kisah inspiratif lima pengusaha kuliner Tanah Air yang sukses merintis usahanya benar-benar dari nol:
1. Ali Muharam (Makaroni Ngehe)
Merantau dari Tasikmalaya ke Jakarta, Ali Muharam sempat melakoni kerasnya ibu kota dengan berbagai pekerjaan kasar, mulai dari office boy hingga penjaga toko.
Ide bisnisnya muncul secara tidak sengaja saat ia bernostalgia tentang camilan makaroni buatan ibunya di masa kecil.
Berkat pinjaman modal Rp20 juta dari seorang kawan, Ali mulai menjajakan makaroni menggunakan gerobak keliling hingga akhirnya sukses mendirikan 40 outlet Makaroni Ngehe di berbagai provinsi.
2. Yoyok Hery Wahyono (Sambal SS)
Sebelum terjun ke bisnis kuliner, Yoyok sempat menggeluti bisnis event organizer di Yogyakarta. Lantaran persaingan yang terlampau ketat, ia beralih membidik pasar pencinta kuliner pedas.
Pada tahun 2002, ia bersama rekannya mendirikan Waroeng Spesial Sambal (SS) dengan konsep warung tenda yang menawarkan lebih dari 30 jenis sambal.
Konsep unik ini sukses besar di pasaran, hingga membawa Waroeng SS terus berekspansi, bahkan merambah pasar internasional dengan membuka cabang di Kuala Lumpur, Malaysia.
3. Aliuyanto (Solaria)
Berawal dari tabungan gaji selama lima tahun sebagai karyawan swasta, Aliuyanto nekat mewujudkan mimpinya membuka restoran kecil bernama Solaria pada tahun 1991.
Setelah sempat tertatih di tahun pertamanya, ia mengubah strategi dengan membangun citra Solaria sebagai restoran mal yang menyajikan porsi besar dengan harga bersahabat.
Strategi branding tersebut berbuah manis. Di bawah naungan PT Sariguna Primatirta, Solaria kini telah mengoperasikan lebih dari 200 gerai yang tersebar di 55 kota besar di Indonesia.
Baca Juga: Mitos atau Fakta: Amankah Mengecas Baterai Motor Listrik Semalaman? Ketahui Aturan yang Tepat
4. Sukyatno Nugroho (Es Teler 77)
Sukyatno Nugroho membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan pendidikan bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Pendidikannya hanya sampai bangku SMP.
Sempat sukses berdagang elektronik, bisnisnya hancur hingga ia terjerat utang. Berbekal sisa modal Rp1 juta dan resep warisan sang ibu mertua, ia nekat membuka kedai es teler pertamanya di Duta Merlin, Jakarta Pusat.
Seiring berjalannya waktu, Sukyatno menerapkan sistem waralaba yang membuat Es Teler 77 kini sukses menggurita dengan lebih dari 140 gerai di Indonesia hingga mancanegara.
5. Nurul Atik (Rocket Chicken)
Lahir dari keluarga petani, Nurul Atik harus rela putus sekolah dan bekerja sebagai office boy di sebuah restoran cepat saji dengan gaji hanya Rp35.000 per bulan.
Setelah satu dekade meniti karier dan mendapat promosi hingga menjadi manajer area, ia memberanikan diri keluar untuk membuka usaha ayam krispi sendiri.
Meski sempat gagal bersama rekan kerjanya, ia bangkit kembali dengan mendirikan Rocket Chicken yang kini sukses besar dan mampu mempekerjakan puluhan karyawan dengan omzet fantastis. (naz)
Editor : Mizan Ahsani