Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Tretan Dhibik dalam Penerapan Perdagangan Batik Tulis Madura

Mizan Ahsani • Kamis, 12 Oktober 2023 | 22:12 WIB
TELITI: Tim PKM-RSH Unipma meneliti tretan dhibik dalam penerapan perdagangan batik tulis Madura. (UNIPMA UNTUK RADAR MADIUN)
TELITI: Tim PKM-RSH Unipma meneliti tretan dhibik dalam penerapan perdagangan batik tulis Madura. (UNIPMA UNTUK RADAR MADIUN)

Jawa Pos Radar Madiun – Istilah tretan dhibik dalam Bahasa Madura memiliki makna yang mendalam. Bahkan, telah membudaya di masyarakat sampai dalam hal perdagangan.

Oleh dosen dan mahasiswa Universitas PGRI Madiun (Unipma), eksistensi tretan dhibik tersebut diteliti secara mendalam.

Dr. Maya Novitasari, S.E., M.Ak., CPFR. bertindak sebagai dosen pembimbing. Adapun tim PKM-RSH Unipma ini diketuai oleh Risma Putri Kusuma Wardhani, dengan anggota Ardi Kurniawan Hidayatulloh dan Firdayana Alya Hendra P.

Adapun penelitian ini juga telah di-submit di Jurnal Akuntansi Multiparadigma Universitas Brawijaya yang telah terindeks Sinta 2.

Maya dan tim menemukan fakta bahwa tretan dhibik telah melekat dalam kehidupan warga Madura, termasuk dalam perdagangan batik tulis lokal.

“Tretan dhibik bagi masyarakat Madura berarti saudara sendiri,” ujar Maya Novitasari.

“Sehingga masyarakat Madura punya ikatan persaudaraan yang kuat, walaupun tidak ada hubungan darah,” imbuhnya.

Tim Unipma menemukan fakta sosial yang menarik dalam perdagangan batik tulis Madura.

DISKUSI: Tim PKM-RSH Unipma meneliti tretan dhibik dalam penerapan perdagangan batik tulis Madura. (UNIPMA UNTUK RADAR MADIUN)
DISKUSI: Tim PKM-RSH Unipma meneliti tretan dhibik dalam penerapan perdagangan batik tulis Madura. (UNIPMA UNTUK RADAR MADIUN)

Dalam berdagang batik tulis Madura, pembeli yang bisa berbahasa Madura dianggap tretan dhibik. Meskipun bukan masyarakat asli Madura. Kepercayaan dengan mudah terjalin.

“Misal pedagang punya konsumen yang bisa berbahasa Madura. Dalam bertransaksi, tidak masalah kalau tidak dibayar dulu. Bisa dibayar belakangan karena percaya,” jelas Maya.

Namun demikian, Maya dan tim Unipma menilai ada dampak negatif dari tretan dhibik. Pedagang bisa saja dirugikan karena mudah percaya dengan konsumennya.

“Contohnya, pedagang dan konsumen bersepakat pembayaran baru dilakukan ketika barang sudah sampai tujuan. Hal ini bisa saja merugikan pedagang,” terangnya.

Menurut Maya dan tim, sistem perdagangan batik tulis dengan cara seperti ini menghambat pertumbuhan industri batik lokal.

Pedagang akan terjebak kata-kata tretan dhibik dalam setiap transaksi kendati sudah tahu betapa tinggi risikonya.

“Meskipun kearifan lokal berupa tretan dhibik tidak dapat dihilangkan, setidaknya perlu ada perubahan pola pikir, khususnya dalam urusan perdagangan batik tulis Madura,’’ kata Maya.

“Ini supaya tidak timbul kerugian di pihak pedagang. Selain itu, dengan pembayaran kontan, uang yang didapat bisa diputar untuk modal produksi lagi,” tambahnya. (naz/*)

Editor : Mizan Ahsani
#Nilai #Perdagangan #batik #unipma #madura #budaya #tretan dhibik