Jawa Pos Radar Madiun – Binatang seringkali menjadi ikon dan identitas sebuah daerah, tidak terkecuali Magetan dengan burung Jalak Lawu-nya.
Jalak Lawu yang berhabitat di Gunung Lawu itu punya banyak keunikan dan mitos yang menyelimutinya.
Masyarakat sekitar Gunung Lawu meyakini keberadaan burung bernama latin Turdus poliocephalus itu untuk menjaga pendaki agar tidak tersesat.
Berikut mitos dan fakta menarik mengenai burung Jalak Lawu yang dilansir dari Radar Lawu.
Karakteristik
Salah satu cara mengenali Jalak Lawu dengan melihat warna bulunya.
Paruh dan kakinya berwarna kuning gading, bulunya dominan warna cokelat dan kuning gading pada bagian dada.
Mitos Menjaga Pendaki
Jalak Lawu dipercaya sebagai jelmaan Wongso Menggolo yang setia menjalankan tugas Prabu Brawijaya V.
Jalak Lawu sering terlihat melompat-lompat di jalur pendakian seolah memberikan panduan ke pendaki.
Sering Muncul Sore
Jalak Lawu sering muncul sore hari berdasarkan Jurnal Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan (JPLB) pada 2019.
Satwa mungil itu kerap muncul di area pos 2 pendakian Gunung Lawu via Cemorosewu.
Makanan
Selain buah dan biji-bijian, burung Jalak Lawu biasa memakan sisa makanan pendaki seperti mi instan dan nasi.
Populasi Terancam
Menurut JPLB, populasi Jalak Lawu mengalami penyusutan.
Penyebabnya, turunnya kualitas habitat akibat eksploitasi hutan dan konversi lahan.
Perburuan Jalak Lawu juga cukup tinggi karena binatang itu punya keunikan, keragaman morfologis, tingkah laku dan suara.
Rendahnya pengawasan juga menjadi alasan berkurangnya populasi Jalak Lawu.
Ikon Magetan
Pemkab Magetan menggunakan Jalak Lawu sebagai nama tari, dan menetapkannya sebagai kesenian daerah.
Tarian itu terdaftar dalam warisan budaya tak benda Indonesia sejak 2013 dengan nomor registrasi 2014004682. (cor)
Editor : Andi Chorniawan