Jawa Pos Radar Madiun - Cap Go Meh merupakan bahasa Tionghoa yang memiliki makna. Cap artinya sepuluh, Go artinya lima, dan Meh artinya malam. Cap Go Meh merupakan malam ke-15 atau pertengahan. Cap Go Meh menjadi penutup tahun baru Imlek.
Perayaan Cap Go Meh biasa digelar malam hari. Pada malam hari, umat biasanya memanjatkan doa untuk diberikan keberkahan sepanjang tahun.
Maka dari itu, Imlek dan Cap Gomeh merupakan dua hal yang berbeda meskipun masih dalam satu rangkaian perayaan tahun baru Tiongkok.
Lantas, apa perbedaan Imlek dan Cap Go Meh? Simak penjelasannya berikut ini seperti dikutip dari Pojoksatu.
- Waktu
Imlek dan Cap Go Meh masih dalam satu rangkaian Tahun Baru Tiongkok. Bedanya, Imlek merupakan rangkaian perayaan saat tahun baru, sedangkan Cap Go Meh adalah akhir dari rangkaian perayaan Imlek, yakni pada hari ke-15 bulan pertama kalender Lunar.
Cap Go Meh menandakan akhir dari rangkaian perayaan Imlek. Untuk perayaan tahun ini, Cap Go Meh akan dirayakan pada 24 Februari mendatang.
- Makna
Imlek dan Cap Go Meh memiliki makna yang berbeda. Imlek bermakna kalender bulan atau kalender lunar, sedangkan Cap Go Meh berarti malam ke-15.
Kata Imlek berasal dari kata "Im" yang berarti bulan dan "lek" bermakna penanggalan. Maka, jika digabung, maknanya menjadi penanggalan bulan atau kalender lunar.
Sedangkan kata cap artinya sepuluh, go berarti lima, dan meh maknanya malam. Sehingga, Cap Go Meh berarti malam ke-15 setelah Tahun Baru Imlek.
- Sejarah
Perayaan Imlek menurut sejarah sudah dirayakan sejak ribuan tahun lalu. Mulanya Imlek merupakan perayaan bagi orang-orang Tionghoa yang berkumpul untuk merayakan masa akhir panen.
Meskipun awalnya dirayakan orang Tionghoa di Tiongkok, namun pada perkembangannya perayaan Imlek dirayakan seluruh warga keturunan Tionghoa di seluruh dunia.
Walau awal mulanya Imlek hanya dirayakan oleh warga keturunan Tionghoa di China, namun lambat laun tradisi ini dirayakan di berbagai negara.
Menurut cerita rakyat kuno Tiongkok, zaman dahulu ada binatang mengerikan bernama Nian yang selalu menakuti penduduk desa saat Imlek. Binatang ini dipercaya memiliki kepala seperti singa dengan tanduk tajam yang digunakan untuk menyerang mangsa.
Makhluk ini keluar saat hari terakhir tengah malam kalender Lunar dan memangsa penduduk desa terutama anak-anak.
Kemudian muncullah seorang lelaki tua dengan rambut perak yang berjanji mengusir Nian selamanya. Saat malam tiba, ia mengenakan pakaian merah, menyalakan lilin dan petasan untuk mengusir makhluk tersebut.
Sementara itu, Tradisi Cap Go Meh diyakini berasal dari warga keturunan Tionghoa di daratan Tiongkok Selatan.
Mereka percaya pada hari ke-15 bulan pertama kalender lunar, para dewa akan turun ke bumi untuk memberikan keselamatan, kesejahteraan, dan nasib baik.
Maka dari itu, para warga keturunan Tionghoa menyalakan lampion, menggelar pertunjukkan barongsai dan liong, serta menyajikan makanan-makanan khas seperti lontong Cap Go Meh.
- Tradisi
Cap Go Meh merupakan puncak rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek yang ditandai dengan festival lampion, atau dikenal dengan nama Yuan Xiao Jie.
Lampion melambangkan bahwa warga keturunan Tionghoa sudah meninggalkan tahun lalu dan menyambut tahun yang baru dengan keberuntungan.
Selain itu, lampion adalah simbol dari harapan warga Tionghoa pada tahun baru, baik dari sisi kesehatan, rezeki, kesuksesan, dan aspek kehidupan lainnya agar lebih baik dari tahun sebelumnya.
Lalu warna merah pada lampion melambangkan kemakmuran, kesatuan, dan rezeki. (*)
Editor : Hengky Ristanto