Oleh: Ustad Udi Djatmiko
DITURUNKANNYA Alquran dan diperintahkannya ibadah shaum atau puasa di bulan Ramadan menjadikan bulan tersebut bulan yang mulia.
Sebagaimana hal tersebut dijelaskan dalam QS. Al Baqarah: 125.
"Bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)."
"Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,….." sambungnya.
Maka, kemuliaan akan bisa diraih dengan: Pertama, kita berinteraksi secara intensif dengan Alquran.
Mulai dari membaca Alquran, menghafalnya, memahami maknanya, mengamalkannya dan mengajarkannya. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW,
“Sebaik-baik kalian yaitu orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya,” (HR. Bukhari).
Kedua, kita melaksanakan puasa baik wajib maupun sunah. Karena puasa adalah mengendalikan nafsu, baik nafsu syahwat atau nafsu dunia, QS Yusuf: 53.
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”.
Secara khusus ibadah puasa adalah untuk Allah SWT. Dan, Allah SWT lah yang akan membalasnya.
Dalam hadits Qudsi Rasulullah SAW bersabda.
"Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung" (HR Bukhari).
Disamping itu, amalan ibadah puasa dan tilawah Alquran akan memberikan syafaat di hari kiamat atas izin Allah SWT.
"Amalan puasa dan membaca Alquran akan memberi syafaat bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya," ujarnya.
Dan, AlQuran berkata:
"Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafaat," (HR. Ahmad).
Maka dari itu, saya mengajak diri dan keluarga saya serta saudara semua untuk mengisi bulan Ramadan ini dengan ibadah puasa yang dilandasi "imanan wah-tisaban".
Artinya, dengan iman dan bersungguh-sungguh memperbanyak interaksi dengan Alquran.
Tentu juga ibadah-ibadah lainnya seperti salat malam, infaq dan sedekah, dzikir kepada Allah, berdakwah, iktikaf dan lain-lain.
Agar kita mendapatkan rahmat, hidayah, ampunan dari Allah SWT. Dan, menjadi orang yang baru terlahir.
Ulama salaf mengatakan kepada sebagian saudaranya ketika melaksanakan shalat Id di tanah lapang.
“Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.” (Dibawakan oleh Ibnu Rajab Al Hambali). Wallahu a’lam bish-shawwab. (*)
*) Penulis adalah Pembina Yayasan Nur Rosyidah Baitul Quran Al Jahra Magetan
Editor : Mizan Ahsani