KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Merintis bisnis fashion tidaklah mudah. Namun bagi Diah Ayu Mustikosari, setiap tantangan selalu dihadapi dengan penuh optimisme.
Hal itu pula yang membuatnya berhasil mengembangkan brand Batik Daun yang ia miliki.
Dari semula hanya toko online di media sosial, kini punya toko fisik dan menggandeng banyak penjahit dan pekerja lokal.
"Waktu dirintis tahun 2013 lalu, Batik Daun masih berupa reseller online shop di Facebook dan Instagram. Dulu namanya masih Batik Mustika," terang Diah Ayu.
Warga Madiun itu menceritakan, nama Batik Daun muncul ketika Ayu menerima pesanan dari seorang kyai di salah satu pesantren di Gresik.
Kala itu, sang kyai meminta untuk dibuatkan seragam para ustadz dengan motif daun.
"Dari situ kemudian muncullah nama Batik Daun," kenangnya.
Pada tahun 2015 hingga 2016, Batik Daun mulai mempublikasikan brandnya melalui iklan di beberapa platform sosial media.
Langkah ini jitu dalam mengerek angka penjualan.
"Hasilnya orderan terus membludak dan Batik Daun mulai bisa mendapatkan database pelanggan," jelas Ayu.
Batik Daun lantas mengembangkan skala bisnis dengan mewadahi para produsen dalam memasarkan batik mereka di store maupun platform penjualan digital Batik Daun.
"Saat itu saya punya impian, di tahun 2023 Batik Daun harus bisa memulai produksi fashion batiknya sendiri," kata Ayu.
Keinginan itu coba direalisasi Ayu dengan menggandeng para penjahit lokal di Kota Madiun.
Bersama para penjahit lokal, Batik Daun mulai memproduksi sendiri dengan mengutamakan produk big size dan patchwork design.
Langkah tersebut sejalan dengan niatan sederhana Batik Daun. Yakni, membantu para perajin dalam berkarya dan memasarkan produk bersama.
"Alhamdulillah akhirnya 2023 sudah bisa produksi sendiri dan punya studio untuk melakukan pemasaran melalui live streaming penjualan di marketplace," sebutnya.
Berkat berbagai strategi tersebut, produk-produk Batik Daun semakin bisa diterima dengan baik oleh berbagai kalangan.
Termasuk karya-karya exclusive design dan yang menyasar segmentasi busana big size.
Batik Daun juga mengusung misi untuk dapat menjadi ladang berkah bagi semua pembeli maupun perajin.
"Ini supaya bisnis Batik Daun berjalan secara sustain atau berkelanjutan, dan menjadi solusi masyarakat yang mencintai eksklusivitas," terangnya.
Beberapa inovasi produk Batik Daun di antaranya blouse patchwork, celana patchwork, outer patchwork dan lainnya.
Bisnis yang terus berkembang diiringi dengan persoalan baru yang kemudian mengusik Ayu.
Yakni, limbah plastik dari banyaknya baju yang diproduksi.
"Seluruh sampah plastik kami salurkan ke Bank Sampah Pesanggrahan kota Madiun untuk mengurangi limbah plastik," ujar Ayu.
Kampanye ini diberi tagar #batikdaunPeduliLingkungan.
"Kami juga sudah mulai beralih menggunakan wadah paper bag atau tas spunbound, untuk mengurangi penggunaan plastik,'' jelasnnya.
Saat ini, produk Batik Daun dapat dengan mudah didapatkan.
Bisa dengan berbelanja langsung di Atrium Lawu Plaza Kota Madiun, atau melalui berbagai marketplace.
Di antaranya tokobatikdaun (TikTok), Tokobatikdaun (Tokopedia), dan tokobatikdaun (Shopee).
"Upaya promosi secara offline juga terus dilakukan dengan mengikuti berbagai pameran," kata Ayu.
Bermacam pameran itu difasilitasi Dinas Perdagangan Jawa Timur dan Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur. Contohnya seperti di Surabaya maupun Semarang.
Batik Daun juga mejeng di sejumlah event expo di Jogjakarta, Jakarta, Bandung hingga Surabaya. Pameran diselenggarakan secara mandiri maupun difasilitasi pemerintah provinsi.
"Kurang lebih sudah mengikuti 10 kali pameran, contohnya seperti Batik Fashion Fair, Invesda Expo, Kreasi Daerah, dan sebagainya," ujar Ayu.
"Yang terdekat, pada 8 Mei hingga 12 Mei Batik Daun mengikuti pameran secara mandiri di Surabaya, yaitu Batik Bordir dan Accessories Fashion Fair," imbuhnya.
Hebatnya, Batik Daun sukses menembus 200 besar Entrepreneur Development oleh Kementerian Koperasi dan UKM.
Batik Daun memiliki impian, yaitu dapat menciptakan branding yang kuat.
Nantinya jika Batik Daun sudah memiliki brand yang kuat, maka strategi apapun akan bisa tercapai. Misalnya dengan menggandeng brand lainnya atau menambah jumlah perajin lokal lain.
Saat ini, pelanggan Batik Daun mencakup pelajar pengusaha, pejabat pemerintahan, maupun pekerja BUMN.
Paling jauh, produk Batik Daun pernah dikirimkan hingga ke Merauke, Aceh dan Natuna.
"Pelanggan-pelanggan itu didiapatkan melalui relasi dan juga online shop," terang Ayu.
Penguatan segmentasi ini tercipta berkat upaya sang owner dalam mengkurasi secara pribadi berbagai produk yang dipasarkan di setiap etalase Batik Daun.
"Pada intinya, top of mind masyarakat dalam menilai Batik Daun adalah baju batik dengan desain dan kualitas yang premium, serta mengutamakan eksklusivitas," pungkasnya. (naz/*)
Editor : Mizan Ahsani