Jawa Pos Radar Madiun - Pernah mendengar istilah weton tulang wangi?
Jangan salah paham, istilah ini bukan berarti seseorang memiliki tulang yang berbau harum.
Dalam tradisi Jawa, weton tulang wangi memiliki arti khusus yang mengacu pada seseorang dengan darah manis atau aura tertentu yang membuat mereka cenderung menarik perhatian makhluk gaib.
Namun, bagi yang lahir pada weton ini, tidak perlu khawatir.
Sebab, manusia dan makhluk gaib memang hidup berdampingan di dunia ini.
Pemilik weton tulang wangi diyakini memiliki aura terbuka yang memudahkan makhluk gaib untuk mendekat.
Aura ini menciptakan sensitivitas yang tinggi terhadap hal-hal gaib, baik berupa energi, getaran, maupun suara tertentu.
Ciri-Ciri Pemilik Weton Tulang Wangi
1. Peka terhadap Hal Gaib
Mereka dapat merasakan kehadiran makhluk gaib melalui getaran, suara, atau suasana tertentu yang membuat bulu kuduk berdiri.
2. Dapat Melihat Makhluk Gaib
Beberapa dari mereka memiliki kemampuan untuk melihat makhluk gaib, terutama saat berada di tempat yang sepi atau penuh misteri.
3. Sering Merasakan Panas Dingin Mendadak
Gesekan energi di tubuh mereka membuat suhu tubuh berubah secara tiba-tiba.
Jika tidak kuat, hal ini dapat menyebabkan rasa sakit.
4. Merasa Selalu Diikuti
Ketika bepergian, mereka sering merasa ada yang mengikuti, meskipun saat dicek tidak ada apa-apa.
5. Mendapatkan Benda Wingit
Pemilik weton tulang wangi sering menemukan benda-benda mistis seperti mustika atau keris saat berada di tempat yang dianggap wingit atau angker.
Weton yang Termasuk Tulang Wangi
Weton kelahiran yang termasuk dalam kategori tulang wangi antara lain:
Senin Kliwon
Selasa Legi
Rabu Pahing
Rabu Kliwon
Kamis Wage
Minggu Pon
Minggu Kliwon
Sabtu Wage
Sabtu Legi
Hal yang Perlu Diperhatikan
Pemilik weton tulang wangi perlu berhati-hati jika menemukan benda wingit seperti mustika atau keris, karena benda tersebut bisa membawa energi negatif.
Sebaiknya, konsultasikan kepada orang yang berpengalaman untuk menghindari dampak buruk.
Dengan memahami weton tulang wangi dan ciri-cirinya, diharapkan kita lebih bijak dalam menyikapi keunikan tradisi Jawa yang kaya akan nilai spiritual. (naz)
Editor : Mizan Ahsani