Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Sering Galau dan Tidak Bersemangat, Awas Alami Quarter Life Crisis, Ini Ciri-ciri dan Gejala serta Tips Mengatasinya

Budhi Prasetya • Selasa, 14 Januari 2025 | 02:00 WIB
Ilustrasi Foto : Remaja yang tengah mengalami quarter life crisis.
Ilustrasi Foto : Remaja yang tengah mengalami quarter life crisis.

Jawa Pos Radar Madiun - Belakangan kita kerap mendengar istilah quarter life crisis. Permasalahan yang kerap dirasakan oleh generasi stoberi atau strawberry

Dilansir dari berbagai sumber quarter life crisis (QLC) adalah kekhawatiran yang dialami seseorang pada masa awal dewasa, yaitu sekitar usia 25 hingga awal 30-an.

Bisa dikatakan, QLC merupakan fase peralihan dari masa remaja beranjak dewasa, di mana seseorang harus bertanggung jawab atas kehidupannya.

Biasanya, remaja umur 20-an sering diliputi kebingungan. Hal itu terkait dengan pemikiran soal masa depan.

QLC adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang beranjak dewasa  mengalami kebingungan, kecemasan, dan ketidakpastian tentang masa depan.

Quarter life crisis kerap dijumpai pada seseorang yang berpikir berlebihan atau overthinking. Namun bisa juga ditimbulkan dari tekanan hidup yang dialami.

Tidak heran jika generasi stoberi yang dikenal rapuh seringkali mengalami QLC yang memiliki ciri-ciri atau gejala merasa bingung, khawatir, galau, tidak memiliki arah, terjebak dalam pekerjaan yang tidak berkembang, kecewa dan tidak bersemangat.

Salah satu penyebab utama quarter life crisis adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, ditambah lagi dengan ketidakpastian tentang pilihan karir dan harapan yang tinggi dari lingkungan sekitar.

Sederhananya, QLC disebabkan adanya pergeseran ekspektasi, kesenjangan antara kesiapan diri dengan ekspektasi sosial, tuntutan yang tinggi dalam dunia kerja hingga harapan untuk sukses.

Berikut tips atau cara yang bisa ditempuh agar tidak terjebak dalam quater life crisis :

1. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain

Salah satu upaya terbaik menghindari overthinking adalah dengan memfokuskan pikiran dan perhatian pada tujuan hidup pribadi dan perjalanan yang telah kita tempuh.

Jangan pernah membandingkan diri dengan capaian orang lain. Karena hal tersebut dapat menciptakan perasaan tidak puas dan cemas.

2. Ubah Rasa Ragu Menjadi Tindakan Positif

Ubah pikiran buruk jadi tindakan nyata. Contohnya, kalau kamu belum atau kurang menyukai pekerjaanmu, segera cari tahu kenapa dan cari cara biar jadi lebih baik.

Jangan mudah menyerah jika belum berhasil mendapatkan hasil positif dari pekerjaan yang telah kamu lakukan. 

3.Cintai Diri Sendiri

Salah satu cara efektif untuk mengatasi pikiran yang terlalu banyak adalah dengan belajar menerima diri sendiri apa adanya.

Ini berarti menerima kelebihan, kekurangan, serta emosi yang ada pada diri sendiri. Dengan menerima diri sendiri, kita dapat mengurangi tekanan untuk menjadi sempurna.

Energi yang tersisa bisa kita manfaatkan untuk dan lebih fokus pada pengembangan diri.

4. Buat Perencanaan Masa Depan

Jika merasakan kebingungan terkait masa depan, cobalah untuk membuat rencana matang. Tidak harus sempurna, yang penting mudah dicapai secara bertahap.

Dengan merencanakan langkah yang ingin dicapai, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, kita bisa mengurangi perasaan ketidakpastian dan lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan.

Pun, menetapkan goals yang ingin dicapai dapat membantu kita mengidentifikasi tujuan hidup dan merancang strategi untuk mencapainya.

5. Berkomunikasi Secara Terbuka

Hal paling penting agar tidak overthinking hingga terjebak quater life crisis, ada baiknya tak ragu mendiskusikan perasaan dan kekhawatiran yang kita alami dengan keluarga.

Atau bisa juga dengan teman dekat, sahabat atau ahli yang kita kenal. Komunikasi yang baik dapat membantu memperjelas pikiran dan mengurangi stres.

Itu tadi lima cara atau tips yang bisa dilakukan para remaja yang beranjak dewasa untuk lebih siap menghadapi tantangan di masa depan. 

Hadapi permasalahan atau kendala dengan pikiran jernih dan tenang, untuk mencari solusi yang tepat. (sib) 

 

*Penulis : Emailia Suharso/ Mahasiswa Politeknik Negeri Madiun

Editor : Budhi Prasetya
#masa depan #remaja #quarter life crisis #overthinking #Generasi Stroberi