Jawa Pos Radar Madiun - Umat Muslim di seluruh dunia saat ini sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 1446 Hijriyah/2025.
Sebagai salah satu rukun Islam, puasa Ramadhan adalah kewajiban bagi Muslim yang telah memenuhi syarat tertentu.
Ibadah ini berlangsung selama sebulan penuh, dimulai dari terbitnya fajar hingga matahari terbenam.
Sebelum memulai puasa, umat Islam disarankan untuk makan sahur terlebih dahulu.
Waktu terakhir untuk sahur ditandai dengan seruan imsak, yang kemudian diikuti dengan azan subuh.
Namun, ada sebagian orang yang terlambat bangun sahur dan masih makan atau minum meskipun waktu imsak sudah tiba.
Bolehkah Makan dan Minum setelah Imsak?
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, menyatakan bahwa seorang Muslim masih diperbolehkan untuk makan dan minum hingga masuk waktu imsak.
Menurutnya, makan dan minum setelah imsak tidak membatalkan puasa, asalkan mereka berhenti sebelum azan Subuh.
Hal ini disebabkan karena puasa dimulai sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.
"Masih boleh makan dan minum saat imsak, karena imsak itu belum terbit fajar," ujarnya, Sabtu (1/3).
"Urut-urutannya sahur, lalu imsak, dan masuk waktu Subuh. Kalau sudah masuk waktu Subuh tidak boleh lagi makan dan minum," tambahnya.
Anwar menjelaskan bahwa waktu imsak yang berada sekitar 10 menit sebelum Subuh bertujuan untuk mendorong umat Islam lebih berhati-hati.
Waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk menggosok gigi atau mempersiapkan diri untuk shalat Subuh.
Selain itu, umat Islam juga dapat memanfaatkan waktu imsak untuk mengucapkan niat puasa Ramadhan, karena niat tersebut wajib diucapkan, sesuai Hadist Riwayat Abu Daud.
"Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya," (HR. Abu Daud No. 2454, Tirmidzi No. 730).
Adapun bacaan niat puasa Ramadhan adalah sebagai berikut:
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala”.
(*/naz)
*Penulis: Oktaviani Dwi Ramadhani/Politeknik Negeri Madiun
Editor : Mizan Ahsani