Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Menyelami Surat-Surat Kartini: Api Emansipasi Perempuan yang Tak Pernah Padam

Ockta Prana Lagawira • Rabu, 16 April 2025 | 23:12 WIB
Ilustrasi Kartini dalam sampul buku "Habis Gelap Terbitlah Terang" koleksi Perpustakaan Jakarta-PDS HB Jassin yang diterjemahkan oleh Armijn Pane.
Ilustrasi Kartini dalam sampul buku "Habis Gelap Terbitlah Terang" koleksi Perpustakaan Jakarta-PDS HB Jassin yang diterjemahkan oleh Armijn Pane.

Jawa Pos Radar Madiun – Setiap 21 April, bangsa Indonesia mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini, sang pahlawan emansipasi perempuan.

Meski telah tiada sejak 1904, semangatnya tetap hidup melalui kumpulan surat-surat yang ia tulis selama lima tahun terakhir hidupnya.

Surat-surat itulah yang membakar semangat perjuangan dan kini menjadi pengingat kuat bahwa perempuan Indonesia punya hak yang sama untuk bermimpi dan mengubah dunia.

Awal Kartini Menulis: Gelisah, Tertekan, dan Mendambakan Kebebasan

Kartini, putri bangsawan Jepara yang lahir pada 21 April 1879, mulai menulis surat pada tahun 1899.

Salah satu yang paling dikenal adalah suratnya kepada aktivis feminis Belanda, Estelle Zeehandelaar.

Dalam surat itu, ia menggambarkan betapa sempitnya ruang gerak perempuan Jawa kala itu.

Ia bercerita tentang tekanan tradisi, seperti keharusan berjalan jongkok di hadapan orang tua atau larangan menyentuh kepala sesama saudara.

Dari sanalah benih keresahan muncul—dan tumbuh menjadi suara lantang yang menuntut perubahan.

Menentang Poligami, Menolak Pernikahan Paksa

Kartini tidak hanya ingin perempuan bisa belajar dan berpikir bebas. Ia juga menolak praktik poligami yang saat itu umum di kalangan bangsawan Jawa.

Sebagai korban pernikahan paksa sendiri—dinikahkan dengan Bupati Rembang yang telah memiliki istri dan anak—Kartini menolak tunduk begitu saja.

Surat-suratnya yang ditujukan kepada pasangan Abendanon (J.H dan Rosa Abendanon), tokoh penting di Hindia Belanda, menjadi saksi nyata perjuangannya.

Abendanon bahkan menawarkan beasiswa agar Kartini bisa belajar di Belanda. Namun, impian itu pupus karena pernikahan.

Dari Surat Menjadi Warisan: "Habis Gelap Terbitlah Terang"

Surat-surat Kartini yang menggugah kemudian dihimpun oleh J.H Abendanon dalam sebuah buku berjudul "Door Duisternis tot Licht", yang dalam versi Melayu dikenal sebagai "Habis Gelap Terbitlah Terang".

Buku ini menjadi warisan intelektual dan emosional bagi bangsa Indonesia.
Kartini wafat pada usia 25 tahun, hanya beberapa hari setelah melahirkan putra pertamanya, Soesalit Djojohadiningrat.

Namun, pemikirannya tak pernah padam. Melalui Keppres No. 108 Tahun 1964, Presiden Soekarno menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan 21 April sebagai Hari Kartini.

Kartini Masa Kini: Dari Surat ke Semangat Abadi

Hari Kartini bukan sekadar perayaan simbolik. Setiap tahunnya, media menyoroti figur-figur perempuan masa kini yang melanjutkan perjuangan Kartini di berbagai bidang—pendidikan, politik, teknologi, hingga kewirausahaan.

Surat-surat Kartini bukan hanya rekaman sejarah. Ia adalah suara dari masa lalu yang terus menyala, menginspirasi ribuan perempuan Indonesia untuk percaya pada kekuatan diri mereka sendiri. (ota)

Editor : Ockta Prana Lagawira
#Habis Gelap Terbitlah Terang #emansipasi perempuan #surat kartini