Jawa Pos Radar Madiun - Toyota Innova Reborn masih menjadi mobil impian banyak orang di Indonesia.
Kendaraan keluarga andalan dari Toyota ini terkenal karena ketangguhannya, kenyamanan berkendara, dan efisiensi bahan bakar, khususnya varian diesel.
Namun, di belahan lain dunia, tepatnya di Shanghai, China, dunia otomotif sudah melaju jauh ke depan.
Di saat masyarakat Indonesia masih menargetkan kepemilikan Innova Reborn sebagai pencapaian mobil pribadi, China justru sudah memasuki era mobil terbang.
Tak bisa dipungkiri, Toyota Innova Reborn masih mendominasi pasar MPV di Indonesia.
Varian diesel-nya dikenal hemat BBM, tangguh, serta memiliki kabin luas yang cocok untuk keluarga besar.
Bahkan hingga saat ini, harga bekasnya tetap stabil, meski generasi terbaru seperti Innova Zenix sudah dirilis.
Shanghai Auto Show 2025: Era Mobil Terbang Dimulai
Sementara di Tiongkok, Shanghai Auto Show 2025 menjadi panggung unjuk gigi teknologi masa depan.
Pameran otomotif terbesar di dunia ini menampilkan lebih dari 1.400 unit kendaraan dari berbagai produsen, termasuk flying car (mobil terbang).
Beberapa mobil terbang yang dipamerkan antara lain:
GAC Aion – GOVE, yang sudah mengantongi izin uji penerbangan dari otoritas China sejak September 2024.
Changan x EHang, hasil kolaborasi antara pabrikan otomotif dan pengembang mobilitas udara.
Chery – Land and Air Vehicle, mobil terbang hybrid tiga bodi tanpa setir dan pedal gas, yang bisa berpindah dari mode mengemudi darat ke mode terbang otonom.
Mobil terbang Chery ini bahkan telah berhasil terbang sejauh 80 km dan dirancang untuk menyelesaikan persoalan kemacetan lalu lintas perkotaan.
Kesenjangan Teknologi yang Mencolok
Pemandangan ini memperlihatkan kontras yang mencolok.
Di Indonesia, masyarakat masih mendambakan Toyota Innova Reborn sebagai lambang mobil keluarga yang mapan.
Sementara di China produsen otomotif sudah bergerak ke arah revolusi mobilitas vertikal.
Namun bukan berarti Innova Reborn tertinggal zaman, mobil ini tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia saat ini.
Apalagi dari sisi utilitas, kenyamanan, dan nilai jual kembali yang stabil.
Perbedaan ini bukan soal siapa lebih maju, tapi soal bagaimana setiap pasar memenuhi kebutuhan mobilitasnya masing-masing. (naz)
Editor : Mizan Ahsani