Jawa Pos Radar Madiun - Mobil keluarga legendaris Toyota Kijang generasi ketiga—dikenal sebagai Kijang Kotak—memiliki reputasi sebagai kendaraan tangguh dan mudah dirawat.
Tapi bagaimana dengan konsumsi bahan bakarnya? Jika dibandingkan dengan mobil zaman sekarang yang bermesin kecil dan sudah injeksi, tentu Kijang Kotak tak bisa dibilang irit.
Namun untuk mobil berusia lebih dari tiga dekade, konsumsi BBM-nya tergolong masih masuk akal.
Dikutip dari AutoFun Indonesia, Kijang Super dengan mesin 5K 1.5 liter mencatatkan konsumsi sekitar 7–8 km/liter di dalam kota, dan bisa mencapai 10–12 km/liter di jalur luar kota.
Ini adalah angka wajar mengingat mobil ini masih menggunakan sistem karburator dan memiliki bobot yang tidak ringan.
Sementara varian Kijang Grand Extra bermesin 7K 1.8 liter memiliki konsumsi sedikit lebih boros, yakni sekitar 6–7 km/liter di kota dan 9–11 km/liter di luar kota, sebagaimana disebutkan dalam laporan teknis dari Mobil123.com.
Konsumsi tersebut juga dipengaruhi oleh karakter mobil yang menggunakan sasis ladder frame, berpenggerak roda belakang, dan berdesain kabin lega dengan kapasitas penumpang hingga 7 orang.
Teknologi saat itu belum memungkinkan penghematan setingkat mobil-mobil modern, namun tetap efisien untuk kebutuhan keluarga besar maupun niaga ringan di era 90-an.
Performa efisiensi bahan bakar tersebut bisa tetap optimal jika mobil dirawat rutin—termasuk penyetelan karburator, penggantian oli berkala, serta tekanan ban yang sesuai.
Kelebihan utama dari Kijang Kotak memang bukan pada iritnya bahan bakar, melainkan keandalan mesin, daya angkut, dan kemudahan perawatan. (gar)
Editor : Tegar Rukmana