Jawa Pos Radar Madiun - Kalau Indonesia adalah negara serba bisa, maka Toyota Kijang adalah mobil serba guna.
Sulit rasanya menemukan satu mobil yang bisa menjelma jadi kendaraan keluarga, mobil jenazah, ambulans darurat, angkot, bahkan mobil pengantin lengkap dengan pita-pita di spionnya.
Kijang bisa, dan tidak ada yang mempertanyakan itu.
Kijang bukan cuma mobil. Ia adalah entitas spiritual di setiap kampung. Ia tahu jalan pintas tercepat ke rumah mantan, tahu titik-titik rawan razia, dan paling tahu kapan waktunya dimodif jadi ceper atau justru jadi lebih tinggi dari Pajero.
Bayangkan, satu unit Kijang Grand Extra tahun 1995 bisa punya lima “kepribadian” tergantung siapa pemiliknya.
Kalau dibeli Puskesmas, ia akan menyamar jadi ambulans.
Kalau pindah tangan ke pedagang sembako, ia akan berubah jadi mobil pengangkut galon dan LPG.
Kalau pindah ke juragan kontrakan, biasanya jok tengah dicopot, jadi lebih lega buat ngangkut kasur busa.
Kalau dibeli anak STM, jangan ditanya: Kijang akan mendadak punya knalpot racing, jok recaro, dan stiker “Pro7”.
Dan tentu, satu varian spesial: mobil nikahan. Mungkin cuma di Indonesia, mobil Kijang Krista bisa tampil bak Alphard dadakan kalau sudah dipakaikan bunga melati dan pita pink.
Si pengantin pun tersenyum dari balik kaca film 40 persen sambil dadah-dadah ke tetangga. Elegan? Relatif. Sakral? Jelas.
Kenapa Kijang bisa sefleksibel itu? Karena sejak generasi Kijang Kotak hingga Kapsul, Toyota tampaknya tahu betul kalau orang Indonesia butuh kendaraan yang bukan cuma “jalan”—tapi juga bisa diajak kompromi.
Joknya gampang dicopot, sasisnya kuat, spare part murah, dan mesinnya… ya, walau kadang bunyinya “ngorok”, tapi tetap hidup. Irit pula.
Itulah kenapa Kijang sering jadi mobil pertolongan pertama kalau mobil utama mogok. Ironis? Tidak. Justru itulah bentuk cinta sejati.
Belum lagi varian karoseri lokal. Ada yang model Commando, jadi mirip Land Rover. Ada yang versi pick-up, cocok buat dagang sayur. Ada juga yang “transgender”—awalnya LGX tapi dimodifikasi jadi SGX biar kelihatan lebih sporty. Semua sah di mata pemilik Kijang. Karena yang penting: fungsinya.
Toyota boleh saja sekarang sibuk jualan Innova Zenix atau Voxy hybrid yang serba digital. Tapi di kampung-kampung dan jalanan sempit kota tua, Kijang masih jadi raja.
Masih dipanggil “mobil keluarga”, masih dibilang “tangguh”, dan tetap bisa diservis di bengkel tetangga yang pegangannya cuma obeng dan kunci pas 12. (gar)
Editor : Tegar Rukmana