Jawa Pos Radar Madiun – Bagi kamu yang gemar menjelajah dengan bujet hemat, ada kabar baik. Kini perjalanan dari Madiun ke Cilacap tak perlu lagi menguras dompet, tapi bukan naik sleeper bus.
Cukup bermodal Rp147.000, kamu sudah bisa sampai ke Cilacap dengan nyaman tanpa harus naik sleeper bus atau kendaraan mahal lainnya.
Rute ini bukan hanya murah, tapi juga menawarkan pengalaman lintas moda transportasi yang seru dan efisien.
Cocok banget untuk para backpacker, pelajar, atau siapa pun yang ingin jalan-jalan sambil tetap hemat.
Rute Hemat: Gabungan Bus dan Kereta Cuma Rp 147 Ribu
Perjalanan hemat ini dimulai dari Terminal Bus Maxi Madiun pada pukul 04.00 WIB dengan menggunakan bus menuju Palur.
Biaya perjalanan ini hanya sekitar Rp39.000. Setibanya di Palur, kamu tinggal berjalan kaki sebentar menuju Stasiun Palur.
Dari sana, kamu bisa melanjutkan perjalanan naik KRL (Kereta Rel Listrik) menuju Stasiun Tugu, Yogyakarta, yang berangkat pukul 07.40 WIB dengan harga tiket hanya Rp8.000 saja.
Setelah tiba di Stasiun Tugu, kamu bisa melanjutkan perjalanan menggunakan kereta Joglosemarkerto jurusan Yogyakarta–Cilacap yang berangkat pukul 10.20 WIB.
Untuk kelas ekonomi, tiketnya hanya Rp100.000, sementara kelas eksekutif dibanderol Rp150.000.
Artinya, jika kamu memilih kelas ekonomi, total biaya perjalanan dari Madiun ke Cilacap hanya Rp147.000, sedangkan jika memilih eksekutif, total biayanya hanya Rp197.000—masih jauh lebih murah daripada moda langsung lainnya.
Selain hemat, rute ini juga relatif nyaman karena menghindari kemacetan dan bisa duduk santai sepanjang jalan.
Opsi Langsung: Lebih Praktis, Tapi Lebih Mahal
Jika kamu lebih mementingkan kenyamanan atau tidak ingin repot dengan transit, ada pilihan moda transportasi langsung dari Madiun ke Cilacap.
Pertama adalah kereta api Wijayakusuma, yang melayani rute langsung Madiun–Cilacap tanpa perlu ganti moda.
Harga tiket kereta ini lebih tinggi, yakni Rp225.000 untuk kelas ekonomi dan Rp330.000 untuk kelas eksekutif.
Keunggulannya tentu saja lebih praktis dan cepat, namun dari segi biaya, selisihnya cukup besar jika dibandingkan dengan rute kombinasi.
Alternatif lainnya adalah menggunakan bus patas langsung dari Madiun ke Cilacap. Harga tiket bus patas saat ini berada di kisaran Rp180.000, tergantung armada dan jam keberangkatan.
Meski menawarkan fleksibilitas waktu dan tidak perlu transit, perjalanan dengan bus patas umumnya memakan waktu lebih lama dibandingkan kereta, terutama jika terkena macet di jalur selatan Jawa.
Selain itu, tingkat kenyamanannya pun relatif, tergantung kualitas kendaraan dan kondisi jalan.
Mana yang Lebih Worth It: Hemat atau Praktis?
Pada akhirnya, pilihan moda transportasi tergantung pada prioritas masing-masing penumpang.
Jika kamu adalah tipe petualang bujet rendah yang senang mengatur rute sendiri, maka kombinasi bus dan kereta adalah opsi terbaik.
Dengan biaya hanya Rp147.000, kamu tetap bisa menikmati perjalanan yang nyaman dan efisien, sekaligus melihat lebih banyak suasana kota-kota kecil yang dilewati.
Cocok untuk mahasiswa, pelancong solo, hingga pekerja yang ingin hemat ongkos pulang kampung.
Namun, bila kamu mengejar waktu dan ingin langsung duduk manis dari titik berangkat hingga tujuan tanpa berpindah-pindah, maka pilihan kereta langsung atau bus patas tetap menjadi andalan—walau biayanya bisa dua kali lipat lebih mahal. Ingat, kenyamanan kadang memang butuh biaya ekstra.
Tips Trip Hemat Madiun–Cilacap
Agar perjalanan hemat ini berjalan lancar, pastikan kamu memesan tiket kereta Joglosemarkerto jauh-jauh hari, apalagi jika bepergian saat akhir pekan atau musim libur panjang.
Tiket kereta ekonomi cepat habis karena banyak diburu traveler bujet. Selain itu, bawalah bekal makanan dan air minum sendiri agar kamu tidak perlu jajan terlalu sering di stasiun atau di dalam kereta.
Untuk memastikan waktu perpindahan moda pas, gunakan aplikasi jadwal KAI Access dan KRL agar tidak tertinggal kereta.
Kalau kamu punya waktu lebih, bisa sekalian mampir kulineran di sekitar Stasiun Tugu sebelum lanjut ke Cilacap.
Pilihan makanan di sekitar Malioboro atau Pasar Beringharjo sangat menggoda—dan tentu saja tetap ramah di kantong. (jho/kid)
Editor : Nur Wachid