Jawa Pos Radar Madiun – Di balik kemegahan pesta pernikahan adat Jawa, tersimpan kekayaan kuliner tradisional yang tidak sekadar mengisi perut.
Beragam makanan khas pernikahan adat Jawa hadir sebagai bagian dari prosesi sakral yang sarat filosofi.
Setiap hidangan menyimpan makna dan doa bagi kedua mempelai yang memulai kehidupan baru.
Empat kudapan ini hampir selalu ada dalam hantaran dan jamuan ringan pernikahan.
Jenang melambangkan kelanggengan. Wajik mencerminkan manisnya hidup berumah tangga.
Jadah sebagai simbol keterikatan kuat. Lemper menggambarkan harapan agar keluarga tetap rukun dan saling menempel erat.
2. Sup
Sup manten atau pengantin merupakan hidangan pembuka yang sangat khas di pernikahan Jawa.
Berisi wortel, buncis, kentang, soun, dan suwiran ayam, sop ini disajikan dengan kuah bening yang gurih dan ringan.
Filosofinya adalah membuka jalan baru yang bersih dan penuh kehangatan dalam rumah tangga.
3. Bubur Sumsum
Bubur sumsum berbahan dasar tepung beras dengan kuah gula merah yang manis.
Makanan ini bukan sekadar pencuci mulut, tapi juga perlambang kelembutan, ketulusan, dan kasih sayang yang diharapkan tumbuh dalam kehidupan pengantin.
4. Sayur Lodeh Kluwih
Sayur lodeh dengan buah kluwih menjadi salah satu menu yang mengandung harapan besar.
Kluwih dalam budaya Jawa berarti “berlebih”, sehingga menyajikan sayur ini dimaknai sebagai doa agar kehidupan pengantin penuh berkah dan rezeki melimpah.
5. Tumpeng
Tumpeng nasi kuning berbentuk kerucut menjadi sajian utama dalam banyak pernikahan adat Jawa.
Disajikan bersama ayam ingkung, telur pindang, dan urap sayur, tumpeng melambangkan puncak harapan.
Nasi kuning sebagai simbol kemakmuran. Ayam ingkung sebagai lambang kepasrahan dan doa. Urap sayur mencerminkan kehidupan yang selaras dengan alam dan sesama.
Kuliner Sebagai Warisan dan Doa Pernikahan
Setiap sajian dalam pesta pernikahan adat Jawa bukan sekadar makanan, tapi juga bagian dari warisan budaya dan doa yang mengiringi langkah pengantin menuju kehidupan baru.
Meskipun variasi menu bisa berbeda tergantung adat daerah, benang merahnya tetap sama: makanan menjadi simbol harapan, keberkahan, dan kebahagiaan.
(ebo/cor)
Editor : Andi Chorniawan