Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Masalah Tung Tung Tung Sahur, Dipakai Free Fire, Kreator Keluhkan Tanpa Izin? Kontroversi AI dan Hak Cipta

Khairul Majid • Jumat, 20 Juni 2025 | 00:13 WIB
Ilustrasi tung tung tung sahur.
Ilustrasi tung tung tung sahur.

Jawa Pos Radar Madiun - Dalam beberapa pekan terakhir, jagat maya Indonesia dihebohkan dengan kemunculan konten suara Tung Tung Tung Sahur dalam game populer Free Fire. Suara khas yang sempat viral di TikTok ini hadir sebagai bagian dari event Ramadan, dengan karakter bernuansa AI bernama Anomali.

Namun muncul pertanyaan: apakah konten ini digunakan dengan izin dari kreator aslinya? Beberapa warganet mencurigai bahwa suara tersebut berasal dari video viral yang sebelumnya dibuat oleh konten kreator TikTok @noxaasht.

Belum ada konfirmasi resmi dari Garena maupun sang kreator mengenai adanya perjanjian kerja sama. Spekulasi pun berkembang—apakah ini kasus pelanggaran hak cipta?

Permasalahan ini membuka kembali diskusi lama dalam dunia digital: apakah karya berbasis AI dapat dilindungi oleh hak cipta?

Dalam banyak yurisdiksi, termasuk Indonesia, hak cipta biasanya melekat pada karya yang diciptakan oleh manusia. Namun jika sebuah karya seperti suara atau animasi, dihasilkan melalui AI atau dengan modifikasi berat berbasis teknologi, status kepemilikannya menjadi samar.

Dalam kasus Tung Tung Tung Sahur, jika suara tersebut dimodifikasi atau dibuat ulang oleh AI dari karya yang sudah viral, apakah kreator asli tetap berhak atas royalti? Ataukah karya baru itu sudah menjadi entitas terpisah?

Situasi ini bukan yang pertama. Sebelumnya, banyak artis dan musisi global mengeluhkan penggunaan suara atau wajah mereka oleh sistem AI tanpa izin.

Contoh paling mencolok adalah deepfake audio yang meniru suara Drake, atau lagu-lagu AI yang menyerupai BTS.

Dalam dunia game, penggunaan tren internet dan meme sebagai konten event menjadi hal umum. Namun ketika karya tersebut berasal dari kreator independen, dan digunakan tanpa atribusi atau kompensasi, potensi konflik hukum terbuka lebar.

Isu ini menjadi pelajaran penting bagi industri game dan para kreator konten lokal.

Di satu sisi, viralitas dan tren seperti Tung Tung Tung Sahur menjadi daya tarik yang tak bisa diabaikan.

Tapi di sisi lain, kejelasan izin, transparansi, dan penghargaan terhadap pencipta asli juga harus dijunjung tinggi.

Jika tidak, ini akan menciptakan iklim industri yang tidak sehat, di mana kreator merasa karyanya mudah diambil tanpa perlindungan hukum yang jelas.

Perdebatan mengenai penggunaan karya berbasis AI dalam dunia hiburan akan terus berkembang.

Kasus Tung Tung Tung Sahur di Free Fire adalah refleksi nyata bahwa hukum kita perlu mengejar cepatnya teknologi.

Apakah karya AI bisa dianggap sebagai bentuk ekspresi kreatif yang sah? Dan jika iya, siapa yang berhak atasnya, pembuat prompt, sistem AI, atau pengembang game?

Pertanyaan-pertanyaan ini akan terus menghantui dunia kreatif digital. Yang jelas, transparansi, etika, dan pengakuan terhadap karya manusia tetap menjadi fondasi penting dalam menghadapi era AI yang semakin dominan. (den)

Editor : Deni Kurniawan
#ai #tung tung tung sahur #hak cipta #Free Fire