JAWA POS RADAR MADIUN - Banyak yang mengira menanam bayam tinggal sebar benih, siram, lalu tunggu panen.
Padahal, langkah sederhana seperti cara menebar benih justru sangat menentukan hasil akhir.
Kesalahan paling umum yang sering dilakukan para pemula adalah menabur benih terlalu rapat.
Alhasil, tanaman saling berebut ruang, cahaya, dan nutrisi.
Akibatnya, bayam tumbuh kurus, tidak merata, dan kualitas panennya pun menurun.
Para petani tradisional di kaki Gunung Lawu punya jurus khusus dalam menebar benih bayam.
Teknik ini bisa dipraktikkan juga untuk penanaman di media tanam sempit.
Seperti menanam batam di pot atau sebidang kecil pekarangan rumah.
Para petani di kaki Gunung Lawu meyakini bahwa menebar biji bayam itu seperti menabur harapan.
Teknik pertanian yang butuh ketepatan dan kelembutan tangan.
Caranya tak asal tabur. Langkah pertama yang dilakukan adalah mencampur benih bayam dengan abu halus atau pasir kering steril dalam perbandingan 1:3. Perbandingannya, biji bayam lebih sedikit.
Tujuannya memudahkan sebaran lebih merata sehingga benih tidak berkumpul di satu titik saat ditabur.
Setelah media tanam siap, tanah gembur, sudah dicampur kompos, dan permukaannya rata, benih bisa ditebar dengan gerakan mengayun perlahan.
Jangan menabur di satu titik atau dengan gaya menggenggam langsung karena akan menyebabkan benih menggumpal.
Benih yang terlalu padat membuat batang bayam tumbuh panjang tapi lemah karena bersaing mendapatkan cahaya.
Akarnya juga tidak berkembang baik karena saling berebut tempat. Jika terlanjur menebar terlalu banyak, bisa dilakukan penjarangan saat tanaman berusia sekitar satu minggu.
Yakni, dengan cara mencabut sebagian bibit yang tumbuh terlalu rapat dan pindahkan ke pot lain atau dibuang agar tanaman yang tetrsisa bisa berkembang maksimal.
Petani di kaki Gunung Lawu punya istilah untuk cara menebar benih ini. Yakni layaknya resep makanan seperti menabur garam ke soto.
Artinya, menebar benih bayam harus dengan takaran dan rasa. (den)
Editor : Deni Kurniawan