Jawa Pos Radar Madiun - Air susu ibu (ASI) memang makanan terbaik bagi bayi. Tapi, ketika si kecil menginjak usia 6 bulan, kebutuhan nutrisinya tak lagi bisa dipenuhi hanya dari ASI.
Di sinilah peran MPASI (Makanan Pendamping ASI) sangat penting. Tak sekadar makanan tambahan, MPASI berfungsi sebagai stimulasi oromotor, pengenalan rasa, hingga pembentukan kebiasaan makan sehat sejak dini.
Menurut pedoman WHO dan IDAI, pemberian MPASI harus memenuhi empat prinsip utama: tepat waktu, nutrisinya adekuat, aman dan higienis, serta diberikan secara responsif.
Yuk, simak panduan lengkapnya di bawah ini!
1. Tanda Kesiapan Bayi Menerima MPASI
Tak hanya usia, kesiapan bayi menerima MPASI juga dilihat dari sinyal perkembangan berikut:
Sudah bisa memasukkan tangan atau benda ke mulut
Dapat duduk dengan bantuan
Kepala sudah tegak
Tertarik melihat orang makan
Merespons pemberian makanan dengan membuka mulut
Masih lapar meski sudah diberi ASI
2. MPASI Harus Adekuat: Kaya Nutrisi dan Seimbang
MPASI harus mengandung karbohidrat, protein (utama protein hewani), lemak, serta zat gizi mikro penting seperti zat besi. Zat besi sangat penting untuk mencegah anemia dan menunjang perkembangan otak.
Jika kekurangan zat besi, anak bisa mengalami hambatan kecerdasan, motorik, dan perilaku.
3. MPASI Aman dan Higienis: Cegah Kontaminasi Sejak Dini
Menurut IDAI, pengolahan MPASI harus memenuhi standar keamanan pangan:
Cuci tangan dan peralatan makan sebelum memasak
Pisahkan bahan mentah dan matang
Gunakan bahan dan air yang aman
Masak MPASI hingga matang sempurna
Simpan dalam suhu di bawah 5°C atau di atas 60°C
Jangan panaskan ulang lebih dari 2 kali
Buang MPASI yang berada di suhu ruang lebih dari 2 jam
4. MPASI Responsif: Ikuti Sinyal Lapar & Jangan Memaksa
MPASI bukan hanya soal memberi makan, tapi juga proses interaksi ibu dan anak.
Berikan MPASI saat bayi menunjukkan tanda lapar, dan hindari memaksa.
Tujuan utamanya adalah membangun hubungan positif antara anak dan makanan.
Tips Pemberian MPASI Pertama untuk Si Kecil
Komposisi Nutrisi Ideal (versi IDAI):
Karbohidrat: 35–60%
Protein: 10–15%
Lemak: 30–45%
Buah dan sayur sebagai perkenalan
Porsi & Frekuensi Makan:
Mulai dari 2–3 sendok makan
Meningkat bertahap hingga 125 ml per sesi
Frekuensi: 2–3 kali makan utama dan 1–2 kali camilan
Tekstur Bertahap:
Awal: halus dan disaring
Bertahap: sesuai usia dan kemampuan mengunyah bayi
Camilan Juga Penting:
Untuk nutrisi tambahan dan stimulasi sensorik
Pilih camilan sehat seperti buah lembut, biskuit bayi, atau puding susu
Contoh MPASI Pertama: Bubur Daging Sapi Wortel
Bahan:
20 gr nasi
15 gr daging sapi
1 sdm wortel cincang
1 sdm minyak
Bawang merah & bawang putih (bumbu halus)
Cara Membuat:
1. Kukus daging dan bumbu hingga matang
2. Tambahkan wortel dan minyak, masak sebentar
3. Masukkan nasi, campur rata
4. Saring atau blender hingga teksturnya sesuai usia bayi
Apa Itu MPASI Fortifikasi dan Kapan Diperlukan?
MPASI fortifikasi adalah makanan bayi dengan tambahan nutrisi seperti zat besi, zink, dan vitamin penting. Produk ini diformulasikan sesuai standar WHO dan aman untuk bayi karena:
Tanpa pengawet
Tahan lama karena teknologi pengeringan
Lengkap nutrisinya, termasuk mikronutrien penting
MPASI fortifikasi bisa jadi solusi praktis bagi ibu yang kesulitan menyiapkan MPASI rumahan setiap hari. (den)
Editor : Deni Kurniawan