Jawa Pos Radar Madiun – Murai batu menjadi salah satu burung kicau yang paling digemari di Indonesia.
Dikenal dengan suara kicauan tajam, gaya tarung ekspresif, dan mental juara, burung ini tak hanya menghiasi rumah para pecinta kicau, tetapi juga mendominasi arena kontes tingkat lokal hingga nasional.
Namun, tak semua murai batu sama. Ada banyak jenis murai yang dibedakan berdasarkan asal daerahnya.
Masing-masing memiliki ciri khas tersendiri, baik dari bentuk tubuh, ekor, warna, hingga karakter suara dan mentalnya.
Berikut ini 7 jenis burung murai batu paling populer di kalangan penghobi dan perbedaannya:
1. Murai Batu Medan – Raja Segala Murai
Asal: Sumatera Utara
Ciri khas:
Ekor panjang dan melengkung (hingga 25 cm)
Ujung ekor putih
Suara nyaring dan variatif
Gaya tarung aktif dan penuh gaya
Kelebihan:
Murai Medan dikenal sebagai tipe paling ideal untuk lomba. Harga bisa sangat tinggi, terutama jika sudah langganan juara.
2. Murai Batu Nias – Si Hitam Garang
Asal: Pulau Nias, Sumatera Utara
Ciri khas:
Tubuh dominan hitam legam, termasuk dada
Baca Juga: Mengapa Burung Lebih Sering Bernyanyi di Waktu Fajar? Ini Penjelasan dari Studi Terbaru
Ekor lebih pendek dibanding murai Medan
Suara tajam, keras, dan kuat
Kelebihan:
Daya tahan tubuh bagus, mudah adaptasi, cocok untuk pemula yang ingin belajar merawat murai.
3. Murai Batu Borneo – Si Gesit Bermental Baja
Asal: Kalimantan Selatan dan sekitarnya
Ciri khas:
Ekor pendek dan lurus
Suara cepat dan tajam
Dada berwarna oranye kekuningan
Kelebihan:
Gesit dan aktif di arena, cocok untuk lomba. Tapi butuh pemasteran intensif untuk variasi suara maksimal.
4. Murai Batu Aceh – Kembaran Medan yang Lebih Garang
Asal: Provinsi Aceh
Ciri khas:
Mirip murai Medan tapi lebih pendek ekornya
Gaya tarung agresif
Suara keras, dada oranye pekat
Kelebihan:
Karakternya cocok untuk arena lomba. Sulit dibedakan dari murai Medan kecuali oleh penghobi berpengalaman.
5. Murai Batu Lampung – Tenang tapi Tajam
Asal: Provinsi Lampung
Ciri khas:
Ekor lebih pendek
Warna dada cokelat tua
Suara tajam tapi tak sevariatif murai Medan
Kelebihan:
Cocok untuk dilatih sebagai murai pemula. Kicauan bisa berkembang dengan perawatan intensif.
6. Murai Batu Jawa – Langka Tapi Tetap Eksis
Asal: Gunung Salak & Gunung Halimun
Ciri khas:
Tubuh sedang, dada pudar
Ekor pendek
Karakter suara kurang stabil
Catatan:
Mulai sulit ditemui di alam liar. Kini lebih banyak dibudidayakan dalam penangkaran.
7. Murai Batu Sabang – Suara Tajam, Tampilan Alami
Asal: Pulau Weh (Sabang, Aceh)
Ciri khas:
Ekor sedang, suara tajam dan khas
Warna dada cerah
Mental bagus, unik dan jarang ditemui
Kelebihan:
Cocok untuk masteran dan sebagai koleksi langka. Belum banyak yang memilikinya. (cor)
Editor : Andi Chorniawan