Jawa Pos Radar Madiun – Burung sering dipandang sebagai simbol keindahan alam dan ketenangan. Tapi bagi petani, tidak semua burung membawa kabar baik.
Beberapa jenis justru dianggap sebagai hama tanaman yang mengancam produktivitas lahan pertanian. Serangan mereka bisa terjadi tiba-tiba dan dalam jumlah besar, mengakibatkan kerugian nyata bagi petani.
Berikut ini jenis-jenis burung yang kerap dianggap hama oleh petani di Indonesia, beserta cara mengatasinya secara bijak.
1. Burung Pipit (Emprit)
Masalah:
Burung kecil ini bisa datang dalam jumlah ratusan saat musim padi mulai berisi. Mereka menyukai bulir padi muda dan bisa merontokkan hasil panen hanya dalam beberapa jam.
Solusi:
Gunakan orang-orangan sawah
Pasang pita plastik mengilap atau CD bekas yang memantulkan cahaya
Pemutaran suara bising di jam-jam rawan serangan
2. Burung Kutilang
Masalah:
Meski populer karena suaranya, kutilang kerap menyerang pohon buah seperti pepaya, pisang, dan mangga. Mereka mematuki buah matang dan meninggalkan bekas rusak.
Solusi:
Bungkus buah dengan kantong plastik atau jaring
Gunakan jaring pelindung saat buah hampir matang
Pasang alat pengusir suara sederhana
3. Burung Jalak
Masalah:
Dikenal sebagai simbol damai, burung ini ternyata doyan biji-bijian seperti jagung dan padi. Bahkan, mereka bisa ikut mengacak-acak tanaman muda saat mencari makan.
Solusi:
Tanam tanaman pengalih (trap crop) di sekeliling lahan utama
Gunakan jaring atau pagar ringan untuk menghalangi masuknya burung
5. Burung Gagak
Masalah:
Gagak termasuk burung oportunis. Selain memakan buah dan biji, mereka juga mencuri bibit, menyerang tanaman muda, bahkan mengganggu peternakan.
Solusi:
Karena gagak sangat cerdas, variasikan metode pengusiran
Gunakan boneka burung pemangsa yang dipindah-posisikan secara rutin
Hindari pengusiran monoton agar tidak dikenali sebagai tipuan
Mengapa Burung Menyerang Lahan Pertanian?
Jawabannya sederhana: insting bertahan hidup.
Lahan pertanian menyediakan sumber makanan melimpah. Padi, buah matang, dan biji-bijian adalah sumber gizi utama burung-burung liar.
Namun hal ini tentu menjadi konflik langsung dengan para petani yang menggantungkan hidup pada hasil panen. (cor)
Editor : Andi Chorniawan