Jawa Pos Radar Madiun – Membangun rumah sering kali terdengar mustahil bagi mereka yang bergaji di bawah Rp 10 juta per bulan.
Namun, dengan perencanaan keuangan yang cermat dan strategi pengelolaan anggaran yang tepat, impian memiliki rumah sendiri bukanlah hal yang mustahil.
Kuncinya adalah membagi prioritas, menyesuaikan desain, dan menyusun rencana anggaran jangka panjang yang realistis.
1. Hitung Dulu Kemampuan Finansial Bulanan
Langkah pertama yang wajib dilakukan adalah memastikan bahwa kebutuhan dasar tetap terpenuhi sambil mulai menyisihkan dana khusus untuk rumah.
Idealnya, alokasi dana untuk pembangunan rumah tidak melebihi 30 persen dari total penghasilan bulanan.
Artinya, dengan gaji Rp6 juta–Rp9 juta per bulan, setidaknya bisa dialokasikan Rp1,8 juta hingga Rp2,7 juta khusus untuk dana pembangunan rumah.
Untuk memulainya, tentukan target waktu pembangunan. Jika ingin mulai membangun dalam 3–5 tahun, maka dana yang dikumpulkan setiap bulan harus dikalikan dengan jangka waktu tersebut.
Dalam lima tahun, menyisihkan Rp2 juta per bulan bisa menghasilkan dana sekitar Rp120 juta, cukup untuk membangun rumah tipe kecil 36 atau 45 dengan desain sederhana dan bertahap.
Penting juga untuk menghindari cicilan konsumtif berlebihan. Gantilah gaya hidup yang boros dengan gaya hidup hemat demi tujuan besar.
Misalnya, batasi nongkrong di luar dan perbanyak konsumsi masakan rumahan. Dana lebihnya bisa dialihkan ke tabungan pembangunan rumah.
2. Prioritaskan Pembelian Tanah Terlebih Dahulu
Setelah dana awal mulai terkumpul, belilah lahan terlebih dahulu sebelum harga tanah melonjak.
Pilih lokasi strategis yang sedang berkembang, misalnya di daerah pinggiran kota yang sudah memiliki akses jalan dan fasilitas umum.
Pembelian tanah bisa dilakukan secara tunai bertahap atau dengan skema kredit tanah melalui koperasi atau pengembang lokal.
3. Bangun Bertahap Sesuai Kemampuan
Setelah memiliki tanah, barulah susun rencana bangunan secara bertahap. Tidak perlu langsung membangun rumah mewah dua lantai.
Mulailah dengan rumah satu lantai yang terdiri dari satu kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan ruang tamu multifungsi. Bangunan awal ini bisa dikembangkan seiring peningkatan pendapatan.
4. Tekan Biaya dengan Desain Sederhana dan Fungsional
Gunakan jasa arsitek atau desain rumah murah yang kini banyak tersedia secara daring. Beberapa platform bahkan menawarkan jasa desain hanya dengan biaya Rp500 ribu–Rp1 juta. Dengan desain yang tepat, rumah mungil pun bisa tampak lega, fungsional, dan estetik.
5. Gunakan Sistem Tukang Harian, Bukan Borongan Penuh
Untuk menekan biaya konstruksi, manfaatkan material lokal dan sistem bangun harian, bukan borongan penuh.
Sistem harian memungkinkan Anda mengontrol pengeluaran mingguan dan menyesuaikannya dengan ketersediaan dana. Namun, tetap butuh pengawasan agar proses tidak berlarut-larut.
6. Simpan Dana di Tempat Aman dan Produktif
Sebagai tambahan strategi, pertimbangkan tabungan emas, deposito berjangka, atau reksa dana pasar uang sebagai instrumen menyimpan dana pembangunan rumah.
Produk-produk keuangan ini relatif aman dan memiliki return yang lebih baik dibanding tabungan biasa, namun tetap mudah dicairkan saat dibutuhkan.
7. Buat Rencana Anggaran dan Disiplin Mematuhinya
Langkah terakhir yang tidak kalah penting adalah disiplin dalam menabung dan terus memperbarui rencana anggaran sesuai kondisi terbaru.
Jangan ragu untuk menunda liburan, membeli gawai baru, atau pengeluaran konsumtif lain selama pembangunan belum selesai. Ingat, rumah adalah aset jangka panjang dan bisa menjadi warisan untuk masa depan keluarga.
Dengan strategi yang terencana, disiplin finansial, dan pemahaman yang baik tentang prioritas, membangun rumah dengan gaji di bawah Rp 10 juta bukan hanya mimpi. (cor)
Editor : Andi Chorniawan