Jawa Pos Radar Madiun - Fotografi digital terus mengalami transformasi seiring hadirnya AI generatif. Kini, menghasilkan karya bergaya fine art black and white tidak lagi harus mengandalkan kamera profesional atau studio lengkap.
Hanya dengan sebuah foto biasa dan prompt khusus, siapa pun bisa menciptakan potret dramatis bernuansa klasik.
Tren terbaru ini banyak menampilkan sosok pria muda dengan ekspresi intens, kepala sedikit terangkat seolah tenggelam dalam inspirasi kreatif.
Latar ruang studi redup penuh tumpukan buku memberi kesan intelektual, sementara efek slow shutter speed menghadirkan motion blur horizontal yang membuat foto terasa hidup.
Hasil akhirnya menyerupai karya fotografer profesional dengan nuansa emosional yang dalam.
Cara Membuat Potret Fine Art Hitam Putih dengan AI
1. Buka Google Gemini lewat Play Store, App Store, atau situs gemini.google.com.
2. Unggah foto resolusi tinggi dengan wajah subjek jelas.
3. Masukkan prompt berikut:
Convert this image into a Fine black and white photography of a handsome young man (using uploaded image) with dark, his head tilted back in a moment of intense creative thought or ecstasy. He is wearing a loose white collared shirt, standing in a dimly lit study filled with stacks of books and papers. The image is captured with a slow shutter speed, creating dramatic horizontal motion blur that streaks the background and the edges of his form, and super realistic.
4. Tunggu beberapa menit dan unduh hasilnya.
Hasil yang diperoleh berupa potret hitam putih dengan pencahayaan dramatis, tekstur kain detail, serta efek blur yang memperkuat kedalaman artistik.
Untuk menyempurnakan tampilan, gunakan software editing seperti Photoshop atau Lightroom agar kontras lebih tajam dan atmosfer semakin kuat.
Fotografi berbasis AI ini menjadi bukti bahwa teknologi dan seni kini berjalan beriringan.
Google Gemini membuka peluang bagi siapa pun untuk menghasilkan potret hitam putih bergaya klasik dengan nuansa profesional, tanpa perlu kamera mahal maupun studio.
(*/naz)
Penulis: Diva Vania Candrawati/Politeknik Negeri Madiun