Kisah wayang kulit oleh Ki Damar*
PARA Pandawa sedang beristirahat di wilayah penuh kezaliman. Momen ini ada dalam lakon wayang Ampak Ampak Manahilan.
Kala itu, mereka hidup miskin tanpa harta dan bekal.
Dewi Kunti (ibu pandawa) menyuruh Arjuna (Permadi) untuk mencari makanan agar mereka bisa bertahan hidup.
Dalam perjalanan, Arjuna bertemu seorang wanita yang menolak melayani suaminya. Padahal mereka telah lama menikah.
Dari kisah kecil ini, tersirat pelajaran besar tentang keharmonisan rumah tangga dalam Islam.
Pesan Moral dari Kehidupan Suami Istri
Pesan moral dalam pandangan Islam, seorang istri memiliki kewajiban untuk melayani suaminya dengan penuh kasih, kecuali jika ada alasan syar’i. Seperti sedang sakit, haid, atau dalam kondisi tidak memungkinkan.
Rasulullah SAW bersabda: “Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur lalu istrinya menolak tanpa alasan yang sah, maka malaikat melaknatnya hingga pagi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari kisah itu, Arjuna sebagai satria memiliki kewajiban merukunkan pasangan suami istri tersebut.
Setelah mereka damai dan kembali harmonis, sang istri memberikan nasi sebagai tanda terima kasih atas bantuan Arjuna.
Namun, Dewi Kunti menolak memakan nasi tersebut.
Dia menilai makanan itu tidak sepenuhnya halal karena diperoleh dari imbalan (pamrih) atas pertolongan.
Kemudian, Nakula dan Sadewa memotong rambutnya sendiri untuk dijual oleh Bima di pasar.
Dari hasil jualan itulah mereka makan dengan tenang dan penuh rasa syukur.
Rezeki Halal Lebih Berkah di Penggalan Kisah Lakon Wayang
Kisah ini menggambarkan bahwa makanan yang diperoleh dengan cara tidak benar — bahkan melalui jasa yang disertai pamrih duniawi — dianggap tidak berkah.
Islam menekankan pentingnya mencari rezeki yang halal dan menjauhi jalan haram, sebagaimana firman Allah dalam:
Surah Al-Baqarah (2:275): “Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran penyakit gila.
Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
Allah menghalalkan usaha yang jujur dan melarang riba serta harta yang batil.
Pandawa memberi contoh nyata bahwa meski lapar dan kekurangan, mereka memilih jalan yang bersih dan halal. (*/den)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan