Jawa Pos Radar Madiun - Fenomena mahar fantastis sebesar Rp3 miliar yang viral dari pernikahan seorang kakek dengan gadis muda di Pacitan baru-baru ini menyita perhatian publik.
Di tengah sorotan terhadap angka miliaran itu, muncul kembali kesadaran bahwa hakikat mahar sejatinya bukan soal nominal, melainkan makna dan keikhlasan di baliknya.
Makna Hakiki Mahar dalam Pernikahan
Dalam ajaran Islam, mahar atau maskawin adalah bentuk penghormatan laki-laki kepada calon istrinya.
Namun, para ulama sepakat bahwa mahar tak harus mahal. Rasulullah SAW sendiri pernah menikahkan sahabatnya hanya dengan mahar hafalan surat Al-Qur’an, dan itu dianggap sah serta penuh keberkahan.
Mahar besar memang tidak dilarang, tapi nilai spiritual dan tanggung jawab jauh lebih penting daripada nilai material.
Banyak pasangan modern kini mulai menyadari hal ini, memilih simbol-simbol bermakna daripada sekadar angka besar yang bisa jadi hanya memicu gengsi.
Contoh Mahar Sederhana tapi Penuh Arti
Banyak kisah inspiratif di masyarakat tentang mahar sederhana yang justru meninggalkan kesan mendalam. Misalnya:
Mahar Hafalan Surat atau Doa, menjadi bukti cinta yang berpadu dengan nilai religius.
Tanaman atau Bibit Pohon, simbol kesuburan dan harapan agar rumah tangga tumbuh subur seperti pohon yang dirawat.
Peralatan Salat atau Buku Agama, menandakan komitmen spiritual dalam membangun keluarga.
Donasi atas Nama Pasangan, di mana mahar disalurkan untuk membantu orang lain sebagai wujud cinta yang menebar kebaikan.
Perlengkapan Hobi Pasangan, seperti alat melukis, buku, alat musik, perlengkapan mendaki, atau perlengkapan berkebun,
Menjadi simbol dukungan terhadap minat dan kebahagiaan pribadi pasangan, agar cinta tumbuh di tengah hal-hal yang mereka sukai bersama.
Makna dari berbagai jenis mahar ini menunjukkan bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak diukur dari nilai harta, melainkan dari ketulusan, penghargaan, dan dukungan terhadap satu sama lain.
Pandangan Ulama dan Tokoh Masyarakat
Sejumlah tokoh agama juga menegaskan bahwa mahar sebaiknya tidak menjadi beban. Islam mengajarkan kemudahan dalam pernikahan, bukan perlombaan dalam kemewahan.
Dengan kata lain, mahar besar tidak menjamin kehidupan rumah tangga yang bahagia, justru bisa menjadi awal dari tekanan sosial dan ekspektasi berlebihan.
Viralnya mahar Rp3 miliar di Pacitan mungkin menarik perhatian publik, tapi di sisi lain menjadi pengingat penting bahwa nilai cinta dan tanggung jawab tidak bisa diukur dengan rupiah.
Banyak pasangan sederhana membuktikan bahwa kebahagiaan datang dari ketulusan, bukan dari angka fantastis.
Mahar hanyalah simbol, sementara komitmen, komunikasi, dan rasa saling menghargai adalah pondasi sebenarnya dalam membangun rumah tangga.
(*/naz)
Penulis: Indah Fitri Nugraheni/Politeknik Negeri Madiun