Jawa Pos Radar Madiun - Viralnya pernikahan dengan mahar Rp3 miliar di Pacitan sempat menarik perhatian publik.
Namun di balik itu, Indonesia justru kaya dengan beragam tradisi mahar yang sederhana, unik, dan penuh makna.
Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam memaknai mahar bukan sekadar simbol materi, tetapi juga penghormatan, tanggung jawab, dan doa bagi kehidupan rumah tangga.
1. Jawa – Mahar sebagai Simbol Kesederhanaan dan Restu
Dalam budaya Jawa, mahar sering disebut pisan manten atau tumbak punjen. Isinya tidak selalu uang atau emas, tapi bisa berupa seperangkat alat salat, kain batik, hingga cincin sederhana.
Nilai utamanya terletak pada keikhlasan dan restu orang tua. Filosofinya, mahar menjadi awal perjalanan rumah tangga yang penuh hormat dan kesederhanaan.
2. Minangkabau – Mahar Disertai Balasan dari Pihak Perempuan
Menariknya, dalam adat Minangkabau mahar disebut japuik, di mana pihak perempuan justru memberikan sejumlah harta kepada calon suami.
Sistem ini mencerminkan budaya matrilineal yang menempatkan perempuan sebagai penjaga kehormatan keluarga.
Mahar di sini bukan alat ukur kekayaan, tetapi simbol penerimaan dan kesetaraan antar keluarga.
3. Bugis – Mahar Sebagai Tolok Ukur Tanggung Jawab
Suku Bugis dikenal memiliki tradisi mahar atau uang panai’ yang jumlahnya bisa mencapai puluhan juta.
Namun bukan karena gengsi, melainkan bentuk penghargaan kepada keluarga mempelai perempuan.
Besarnya mahar menunjukkan kesanggupan dan keseriusan calon suami untuk menanggung tanggung jawab keluarga kelak.
4. Bali – Mahar Dalam Bentuk Upacara dan Persembahan
Di Bali, mahar tidak selalu dalam bentuk uang atau barang. Sering kali berupa banten (sesajen), kain adat, hingga biaya upacara adat yang melibatkan keluarga besar.
Filosofinya mencerminkan keseimbangan antara hubungan manusia, alam, dan Sang Hyang Widhi (Tuhan).
5. Aceh – Mahar sebagai Bukti Kehormatan dan Keberanian
Dalam adat Aceh, mahar disebut mas kawin dan memiliki nilai simbolik tinggi. Biasanya berupa emas, perhiasan, atau benda pusaka keluarga.
Mahar ini melambangkan keberanian dan kehormatan calon suami dalam meminang perempuan Aceh yang dijunjung tinggi martabatnya.
6. Papua – Mahar dalam Bentuk Babi atau Manik-Manik Tradisional
Di Papua, mahar bisa berupa babi, gelang kerang, hingga manik-manik khas yang disebut noken.
Mahar ini memiliki nilai sosial tinggi karena melibatkan seluruh keluarga besar dalam prosesnya.
Selain melambangkan cinta, mahar juga menjadi sarana memperkuat hubungan antarsuku dan antar keluarga.
Baca Juga: Kakek yang Menikahi Gadis Pacitan dengan Mahar Rp 3 Miliar Pernah Dipenjara Kasus Penipuan
7. Dayak – Mahar Sebagai Simbol Kesatuan Dua Klan
Dalam adat Dayak, mahar disebut belanja adat yang diserahkan kepada keluarga mempelai perempuan. Isinya bisa berupa gong, piring antik, kain tradisional, hingga hasil bumi.
Proses penyerahan mahar menjadi momen sakral yang menandai penyatuan dua klan atau marga dalam ikatan suci pernikahan.
Makna di Balik Ragam Mahar Nusantara
Dari Sabang hingga Merauke, setiap budaya punya caranya sendiri dalam mengekspresikan cinta melalui mahar.
Meski bentuknya beragam dari babi, kain, hingga doa nilai yang diusung tetap sama: penghargaan, keikhlasan, dan komitmen.
Fenomena mahar fantastis seperti Rp3 miliar di Pacitan mungkin mencuri perhatian, namun tradisi Nusantara mengingatkan bahwa makna cinta tidak diukur dari angka, melainkan dari niat tulus dan nilai budaya yang dijaga.
(*/naz)
Penulis: Indah Fitri Nugraheni/Politeknik Negeri Madiun