Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah maraknya permainan digital dan gawai modern, permainan tradisional congklak kembali menarik perhatian para orang tua dan pendidik.
Permainan yang telah ada sejak zaman nenek moyang ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana edukatif yang kaya manfaat bagi perkembangan anak.
Asal-usul dan Cara Bermain
Congklak yang dikenal juga dengan nama dakon di Jawa atau manggala di beberapa daerah lain merupakan permainan tradisional yang menggunakan papan berlubang dan biji congklak (biasanya berupa kerang kecil, biji-bijian, atau batu kecil).
Papan congklak biasanya memiliki 14 lubang kecil yang terbagi menjadi dua baris dan 2 lubang besar di ujung kanan dan kiri sebagai “lumbung” masing-masing pemain.
Dua pemain duduk berhadapan, dan mereka secara bergantian mengambil biji dari salah satu lubang untuk didistribusikan satu per satu ke lubang berikutnya searah jarum jam.
Tujuan utama permainan ini adalah mengumpulkan biji terbanyak di lumbung milik sendiri.
Pemain yang memiliki jumlah biji terbanyak di akhir permainan dinyatakan sebagai pemenang.
Nilai Edukatif dan Manfaat bagi Anak
Baca Juga: Gaji Habis di Tengah Bulan? Simak Tips Mengatur Keuangan Ini agar Tak Boncos!
Permainan congklak bukan hanya sekadar sarana hiburan, tetapi juga memiliki nilai pendidikan dan sosial yang penting untuk anak-anak.
Berikut beberapa manfaatnya:
1. Melatih kemampuan berhitung dan logika
Setiap langkah dalam congklak membutuhkan perhitungan dan strategi. Anak-anak belajar berhitung secara alami saat membagikan biji satu per satu ke setiap lubang, tanpa merasa sedang belajar matematika.
2. Mengasah kemampuan berpikir strategis
Anak-anak harus memikirkan langkah terbaik agar bisa menguasai lebih banyak biji. Ini melatih kemampuan berpikir kritis dan perencanaan taktis sejak dini.
3. Menumbuhkan kesabaran dan sportivitas
Dalam congklak, pemain harus menunggu giliran dan menerima hasil permainan dengan lapang dada. Nilai sportivitas, kesabaran, dan kejujuran tumbuh dari proses bermain ini.
4. Meningkatkan koordinasi motorik halus
Gerakan tangan saat memindahkan biji satu per satu melatih koordinasi tangan dan jari, yang penting bagi perkembangan motorik anak-anak usia dini.
5. Memperkuat interaksi sosial dan emosional
Congklak dimainkan berdua, sehingga anak-anak belajar berinteraksi, berkomunikasi, dan memahami emosi lawan main.
Ini membantu membangun kecerdasan emosional serta mempererat hubungan pertemanan.
6. Melestarikan budaya lokal
Bermain congklak membantu mengenalkan anak pada kekayaan budaya Indonesia.
Dengan begitu, generasi muda tidak mudah melupakan permainan tradisional warisan leluhur di tengah derasnya arus globalisasi.
Beberapa sekolah dasar kini mulai mengintegrasikan permainan tradisional ke dalam kegiatan ekstrakurikuler.
“Anak-anak sangat antusias bermain congklak. Mereka belajar berhitung sambil bersosialisasi tanpa merasa terbebani,” ujar Siti Rahmawati, guru SD Negeri 05 Jakarta Timur.
Hal senada diungkapkan oleh Rini (35), seorang ibu rumah tangga. “Daripada terus menatap layar gadget, saya ajak anak saya main congklak setiap sore. Dia jadi lebih sabar dan fokus,” katanya.
Pemerintah dan komunitas budaya juga mulai menggencarkan kegiatan “Hari Permainan Tradisional” di berbagai daerah.
Tujuannya adalah agar permainan seperti congklak, engklek, dan gobak sodor tidak punah tergilas zaman.
Beberapa taman bermain edukatif bahkan mulai menyediakan area congklak raksasa, agar anak-anak dapat bermain sambil mengenal budaya Indonesia secara lebih menarik dan interaktif.
Permainan congklak bukan sekadar nostalgia masa kecil, melainkan warisan budaya yang sarat nilai edukatif.
Di era digital saat ini, memperkenalkan congklak kepada anak-anak dapat menjadi cara menyenangkan untuk menyeimbangkan antara hiburan, pembelajaran, dan pelestarian budaya bangsa.
Editor : Nur Wachid