Jawa Pos Radar Madiun - Bab 1168 One Piece diperkirakan menjadi lanjutan dari tensi besar antara Shanks dan Raja Elbaf, Harald.
Pertemuan pribadi mereka—yang sudah dibangun sejak bab sebelumnya—tampaknya akan menjadi titik balik dari seluruh kilas balik Elbaf.
Harald menunjukkan keakraban yang tidak masuk akal terhadap Shanks dan Shamrock, memicu dugaan bahwa ia pernah bertemu Shanks jauh sebelum peristiwa besar ini, mungkin saat Roger berkunjung ke Elbaf.
Di bab mendatang, pembaca mungkin disuguhi percakapan paling terlarang dalam sejarah seri ini.
Shanks dan Harald tampaknya akan membicarakan hal-hal yang selama ini dianggap tabu: legenda Dewa Matahari Nika, pemberontakan Rocks D. Xebec, hingga rahasia terdalam Pemerintah Dunia yang selama ratusan tahun disembunyikan dari dunia luar.
1. Percakapan Rahasia Shanks dan Harald: Kebenaran yang Tidak Boleh Terucap
Pertemuan pribadi mereka memunculkan tiga prediksi utama.
Pertama, Bab 1168 kemungkinan membuka dialog mendalam tentang Dewa Matahari Nika, dewa yang sangat dihormati di Elbaf, sekaligus sosok yang identitasnya kini terkait langsung dengan Luffy.
Kedua, percakapan itu bisa membahas kembali warisan Rocks D. Xebec, mengingat Harald pernah berhubungan dekat dengan Rocks.
Ketiga, Shanks mungkin secara perlahan memperlihatkan ketertarikannya pada kebenaran dunia, termasuk bagaimana Pemerintah Dunia mengendalikan sejarah demi kepentingan mereka.
Harald sendiri tampaknya mulai mencurigai sifat asli Shanks. Kebencian Shanks terhadap dunia bawah terlihat seperti akting, dan Harald merasakan ada tujuan lebih besar di balik sikapnya.
Bab baru ini dapat menjadi titik di mana keduanya membangun kesepahaman tentang dunia yang ingin mereka ubah.
2. Awal Benih Tragedi Elbaf
Harald diprediksi mulai menyadari ancaman besar yang menanti Elbaf. Pemerintah Dunia disebut memiliki rencana menjadikan para Raksasa sebagai prajurit budak, memanfaatkan kekuatan mereka sebagai mesin perang.
Kilas balik ini berada setahun sebelum kematian Harald, sehingga Bab 1168 bisa menjadi momen di mana ia memahami bahaya sesungguhnya dan mencoba menggagalkan rencana itu, yang kelak membuatnya meregang nyawa.
Sommers pernah menyebut bahwa rencana Pemerintah Dunia hampir berjalan sempurna sebelum Harald "mengacaukannya". Momen inilah yang kemungkinan sedang dipersiapkan Oda.
3. Shanks dan Shamrock: Ksatria Dewa yang Mengawal Takdir Elbaf
Selain Harald, Bab 1168 kemungkinan memberi sorotan lebih besar pada hubungan Shanks dan Shamrock—dua sosok yang kini dikonfirmasi sebagai bagian dari Ksatria Dewa.
Status mereka sebagai Pedang Dewa menandakan bahwa keduanya adalah elit tertinggi yang bertugas langsung di bawah Naga Langit.
Beberapa hal yang diantisipasi pembaca:
• Kedudukan pasti Ksatria Dewa
Bab ini mungkin mengungkap struktur peran mereka. Apakah mereka penegak hukum, pembantai, atau pengawas politik?
Kehadiran mereka di Elbaf menunjukkan negara raksasa itu memegang nilai strategis yang sangat vital.
• Kontras ideologi Shanks–Shamrock
Shamrock tampaknya adalah Ksatria Dewa ortodoks, tunduk pada doktrin Pemerintah Dunia. Shanks, sebaliknya, mulai digambarkan sebagai sosok yang mempertanyakan sistem.
Celah inilah yang mungkin menjadi akar dari pergeseran besar dalam hidup Shanks hingga akhirnya menjadi Yonko.
• Hubungan dan pelatihan yang identik
Keduanya kemungkinan dibentuk melalui pelatihan ekstrem yang sama sebagai prajurit suci.
Bab 1168 dapat menghadirkan adegan kerja sama atau sinkronisasi kemampuan mereka, mempertegas mengapa Harald langsung mengenali mereka sebagai prajurit kelas berbeda.
4. Awal Kejatuhan Harald dan Kelahiran Legenda Shanks
Jika prediksi ini benar, Bab 1168 bisa menjadi awal tragedi Elbaf:
– Harald mengetahui rencana gelap Pemerintah Dunia.
– Shanks mulai menjauh dari perannya sebagai penegak Tanah Suci.
– Shamrock tetap menjadi simbol indoktrinasi murni Pemerintah Dunia.
Kilas balik ini dapat menjadi fondasi peristiwa besar yang membentuk posisi Elbaf dalam dunia One Piece, sekaligus menyingkap motif terdalam Shanks—apakah ia pahlawan, agen ganda, atau sosok yang menjalankan agendanya sendiri.
Editor : Ockta Prana Lagawira