Jawa Pos Radar Madiun - Euforia kemenangan atlet balap sepeda Rendy Varera Sanjaya yang sukses menyumbangkan medali emas dan perak di ajang SEA Games 2025 Thailand masih terasa hangat.
Prestasi gemilang di nomor MTB Eliminator dan Downhill tersebut tak pelak membuat "kuda besi" andalannya, Trek Remedy, mendadak menjadi sorotan utama para pecinta gowes di Tanah Air.
Banyak penghobi sepeda gunung yang kini melirik Trek Remedy sebagai tunggangan impian agar bisa merasakan sensasi berkendara layaknya sang juara SEA Games.
Namun, sebelum Anda terburu-buru memecahkan celengan untuk meminangnya, penting untuk memahami bahwa Trek Remedy hadir dalam beberapa kasta atau varian yang berbeda.
Meski secara DNA geometri semuanya dirancang untuk melibas jalur trail teknikal dengan roda lincah berukuran 27,5 inci, perbedaan material rangka dan komponen bawaan membuat setiap varian memiliki karakter dan harga yang terpaut jauh.
Bagi kalangan penghobi yang mencari keseimbangan antara performa dan ketahanan dompet, varian Trek Remedy 8 adalah primadona yang paling masuk akal.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Sepeda MTB United Harga Rp 2 Juta, Ada Elbruz 26 Pilihan Favorit Remaja dan Wanita
Seri ini sering disebut sebagai "kuda beban" karena rangkanya menggunakan material Alpha Platinum Aluminum.
Meskipun bobotnya sedikit lebih berat dibandingkan versi yang dipakai atlet profesional, rangka alumunium ini dikenal sangat "badak" alias tahan banting saat dihajar di medan bebatuan cadas atau drop yang tinggi.
Biasanya, Trek Remedy 8 sudah dibekali komponen kelas menengah-atas yang sangat reliabel, seperti kombinasi drivetrain Shimano XT atau SRAM GX Eagle 12-speed, serta suspensi depan RockShox Lyrik yang mumpuni.
Varian ini sangat cocok bagi goweser yang ingin merasakan geometri juara SEA Games tanpa harus khawatir rangkanya retak saat terjatuh dalam pemakaian harian yang kasar.
Sementara itu, bagi mereka yang menginginkan spesifikasi race-ready atau mendekati apa yang digunakan oleh atlet elit di kancah internasional, varian Trek Remedy 9.8 dan 9.9 adalah jawabannya.
Perbedaan paling mencolok ada pada material rangkanya yang sudah mengadopsi teknologi OCLV Mountain Carbon.
Material serat karbon khusus dari Trek ini membuat bobot sepeda terpangkas signifikan, menjadikannya jauh lebih ringan saat diajak menanjak (climbing) dan lebih responsif saat bermanuver di tikungan sempit.
Tak hanya rangka, komponen yang menempel pun biasanya merupakan kasta tertinggi ("sultan"), seperti wheelset karbon Bontrager dan suspensi FOX Factory Series dengan lapisan emas Kashima Coat yang super licin.
Tentu saja, performa tingkat tinggi ini harus ditebus dengan harga yang bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dari varian alumunium.
Jadi, apakah Anda tim alumunium yang badak atau tim karbon yang super ringan? Pilihan kembali pada budget dan seberapa serius Anda ingin menekuni jalur trail seperti sang juara SEA Games. (gar)
Editor : Tegar Rukmana