Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Ma.ja Watch, Jam Tangan Kayu Beridentitas Indonesia yang Tembus Pasar Global

Hengky Ristanto • Sabtu, 7 Februari 2026 | 15:39 WIB
KRIYA BERKELAS: Founder Ma.ja Watch Justisia Dewi menunjukkan koleksi jam tangan kayu bertema budaya Indonesia yang kini mulai menembus pasar internasional.
KRIYA BERKELAS: Founder Ma.ja Watch Justisia Dewi menunjukkan koleksi jam tangan kayu bertema budaya Indonesia yang kini mulai menembus pasar internasional.

Jawa Pos Radar Madiun – Berawal dari kecintaan pada jam tangan dan kepedulian lingkungan, Ma.ja Watch Indonesia berkembang menjadi brand jam tangan kayu dengan identitas budaya yang kuat.

Produk kriya ramah lingkungan itu kini tak hanya menembus gerai ritel ternama di ibu kota, tetapi juga mulai merambah pasar global.

Di balik Ma.ja Watch, ada Justisia Dewi. Dia mendirikan Ma.ja Watch pada 2021.

Konsepnya sederhana, tetapi unik: jam tangan dari kayu dan material ramah lingkungan lain, termasuk limbah sumpit.

Produk tak sekadar fungsional, tetapi juga membawa cerita.

“Jam tangan bagi saya bukan sekadar penunjuk waktu, tetapi bagian dari identitas pemakainya. Karena itu, Ma.ja Watch dirancang dengan cerita, nilai, dan sentuhan budaya Indonesia,” ujar Justisia.

Dalam proses produksinya, Ma.ja Watch melibatkan pengrajin lokal dari berbagai daerah, terutama Tangerang Selatan dan Yogyakarta.

Sementara, pengembangan brand dipusatkan di Cinere. Saat ini, Ma.ja Watch memiliki lokasi usaha di Ruko Cinere 8, Limo, Depok.

Brand tersebut juga mulai masuk jalur ritel modern.

Di antaranya hadir di Alun-Alun Grand Indonesia serta Metro Margocity Depok.

Ma.ja Watch mengusung koleksi bertema budaya dan alam Indonesia.

Di antaranya seri Srikandi yang terinspirasi pewayangan, hingga koleksi bertema daerah seperti Bajo, Arjuna Srikandi, serta Kupu Sayap Renda.

Nilai ketelitian kriya buatan tangan menjadi kekuatan utama.

Namun, perjalanan Ma.ja Watch tidak mulus. Tantangan terbesar di awal adalah edukasi pasar.

Jam tangan kayu masih tergolong produk yang belum umum di Indonesia.

Di sisi lain, konsistensi kualitas kriya juga menuntut kontrol ketat.

Untuk bertahan, Ma.ja Watch memperkuat kualitas, storytelling, serta kolaborasi pengrajin lokal.

Inovasi desain dan pemanfaatan kanal digital menjadi strategi memperluas pasar.

Titik balik usaha mulai terasa saat Ma.ja Watch dikenal sebagai brand jam tangan kayu beridentitas Indonesia.

Brand itu juga bermitra dengan Wonderful Indonesia untuk memperluas awareness produk kriya lokal.

Produk Ma.ja Watch kini mencakup jam tangan pria, wanita, hingga kids series.

Ada pula produk turunan seperti strap kulit dan aksesori.

Koleksi bertema budaya dan alam disebut menjadi yang paling diminati pasar.

Perkembangan Ma.ja Watch kian terarah setelah bergabung sebagai UMKM binaan Rumah BUMN BRI wilayah Jakarta pada 2023.

Justisia menyebut, pendampingan bisnis, pelatihan UMKM, hingga fasilitasi expo menjadi bekal penting untuk meningkatkan profesionalisme usaha.

Corporate Secretary BRI Dhanny menegaskan komitmen BRI dalam mendorong UMKM naik kelas.

“BRI melalui Rumah BUMN terus mendorong UMKM untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas melalui penguatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar, dan pendampingan berkelanjutan. Kisah Ma.ja Watch menjadi contoh bagaimana UMKM lokal dengan identitas kuat dapat berkembang dan menembus pasar internasional,” ujar Dhanny.

Saat ini, Ma.ja Watch telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia.

Bahkan, mulai merambah pasar internasional melalui kanal digital serta pesanan khusus.

Ma.ja Watch juga tercatat tampil dalam sejumlah pameran global, seperti Berlin Design Week, Handarty Korea, Style Bangkok, hingga Global Sourcing Expo Australia.

Ke depan, Ma.ja Watch menargetkan ekspansi pasar yang lebih luas dengan tetap membawa identitas budaya Indonesia sebagai kekuatan utama. (*)

Editor : Hengky Ristanto
#jam tangan kayu #MaJa Watch #UMKM Naik Kelas #rumah bumn bri #Kriya Indonesia #bri