Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Bezuk ”God Father”-nya Madiun Bambang Irianto di Lapas Sukamiskin, Bandung (1)

Administrator • Senin, 29 April 2019 | 18:28 WIB

Intan tetaplah intan. Ditenggelamkan di lumpur paling dalam sekalipun, dia tetap berkilau. Dan itu tergambar pada sosok Bambang Irianto (BI). Meski hari-harinya kini dilalui di Lapas Sukamiskin, Bandung, mantan Wali Kota Madiun itu tetap ”berkilau”. Apanya yang berkilau? Berikut catatan Direktur Radar Madiun Aris Sudanang sepulang bezuk Bambang di lapas yang terkenal angker itu.


Tterus terang, seminggu menjelang bezuk, saya diimpeni BI. Mimpinya tidak semalam-dua malam. Tapi tiga malam berturut-turut. Mimpinya sama terus. Yakni sama BI diajak gojek habis-habisan soal berita. Padahal, kalau sesuai kenyataan, BI selalu kritis terhadap berita-berita yang disajikan koran Radar Madiun. Kalau beritanya sesuai kenyataan, BI angkat topi. Tapi kalau awu-awu dan datanya abu-abu, Bambang langsung ”ngudang”. Saya dilungguhke lalu ”ditatar” dengan baik dan benar.


Tapi dalam mimpi itu, BI kok malah ngajak gojek? Gojek segojek-gojeknya. Ini surprised buat saya. BI – yang saya kenal selama ini – ngomong opo eneke. Bloko suto. Blak-blakan. Dan tidak tedeng aling-aling. Lha ini luar biasa. Ngajak gojek saya.


Karena setiap malam ”kerawuhan’’ mimpi seperti itu, saya sedikit kepikiran. Bukan karena apa. Biasanya bla-bla-bla, ini kok beda? Akhirnya saya mencari waktu yang tepat untuk bezuk. Yang jelas tidak di akhir pekan. Takut untel-untelan. Sebab jumlah penghuni lapas kan tidak sedikit. Akhirnya saya putuskan berangkat setelah hari Senin ke Sukamiskin.


Bak mau bertamu ke rumah orang, saya harus paham unggah-ungguh. Kulonuwun dulu. Pertama yang saya kontak adalah Armaya. Adik BI -- yang akrab disapa Yayak ini -- saya hubungi via WhatsApp. Yayak mempersilakan. Setelah sang adik memberi sign, kurang afdol rasanya kalau belum izin keluarga dekat. Akhirnya saya izin salah satu putra BI, Boni Laksmana. Intinya, ingin membezuk bapaknya ke Lapas Sukamiskin Bandung. ‘’Mas, mohon izin, saya mau bezuk bapak di Bandung,’’ ujar saya kepada Boni usai salat Jumat di Masjid Kuno Al Arrowiyah, Ngrowo, Mojorejo, Taman, Madiun.


Saya izin seperti itu, Boni cuma mengangguk. “Matur nuwun sanget, mau menjenguk bapak,’’ balas Boni dengan santun. Izin ini sangat saya perlukan. Sebab, saya masih gelap soal tata cara pembezukan. Feeling saya, menjenguk penghuni lapas tentu tidak sama seperti membezuk penghuni rumah sakit. Tidak asal jenguk. Apalagi ini lokasi bezuknya juga tidak dekat. Naik kereta api butuh waktu semalam untuk sampai Bandung. Tapi karena sudah mengantongi izin komplit dari keluarga, plong saya.


Modal izin ini membuat saya tenang. Minimal, bisa tidur nyenyak selama di kereta. Tepat pukul 19.12, kereta Turangga membawa saya ke Kota Kembang. Memilih tempat duduk single seat makin menyamankan saya. Berikutnya pasang headset. Dengerin lagu slow. Pasang selimut dan amblaslah kesadaran saya. Bangun-bangun saat kereta berhenti di Stasiun Tasikmalaya. Sambil kriyip-kriyip, mata saya paksa melihat jam di handphone. Alamak masih pukul 02.00. Tidak ada pilihan lain kecuali tiarap lagi di balik selimut. Headset saya sempurnakan letaknya di kuping . Baru beberapa lagu, kesadaran saya kembali hilang. Tidak terasa, gerbong kereta sudah parkir di stasiun Bandung. Itu Selasa pagi seminggu lalu. Kembali saya melihat jam di handphone. Masih pukul 05.00. Saya buru-buru mengemas barang bawaan.


Begitu turun dari kereta, mata saya otomatis ”belanja”. Kedai kopi di depan pintu keluar stasiun Bandung jadi jujugan berikutnya. Roti di meja saya sambar. Lumayan sebagai obat penawar kriyuk-kriyuk di perut. Hawa pagi Bandung -- yang lumayan dingin -- sirna begitu perut tersiram kopi instan. Dua sruput sampai tiga sruputan kopi, benar-benar menenangkan pagi. Bunyi notifikasi di hape gantian berdering. Saya buka satu per satu. Tapi ada satu notifikasi yang saya tunggu. Yakni jadwal jam bezuk lapas. Setelah saya pelototi, akhirnya muncul juga notifikasi yang saya harapkan. Jam bezuk dimulai pukul 09.00. Artinya masih 4 jam lagi untuk bisa bezuk. Lumayan, bisa mandi-mandi dulu.


Tidak terasa, sudah 3 jam lamanya saya ”bersemedi” di stasiun Bandung. Usai ”mandi kucing”, saya bertanya kepada sesama pengguna jasa kamar mandi umum stasiun. Intinya, butuh waktu berapa lama untuk sampai ke Sukamiskin. Menurutnya, butuh waktu satu jam dari stasiun. ”Bandung macet dimana-mana. Apalagi kalau barengan jam kerja,’’ kata Asep Mulyana, 45, yang selepas SMA kuliah di UIN Sunan Gunung Djati, Bandung.


Informasi ini saya jadikan modal untuk pesan angkutan via aplikasi online. Hanya 10 menit, saya sudah nangkring di dalam taksi. Karena tujuan sudah jelas, sang sopir langsung tancap gas. ‘’Kalau bisa sebelum jam 09.00 sudah sampai lapas ya, Kang Udin,’’ harap saya sambil membaca nama sopir yang tertera dalam aplikasi online hape saya.


Kang Udin cuma tersenyum. Hanya sesekali menjawab pertanyaan saya. Sebab konsentrasinya mempersingkat waktu. Tidak terasa sudah 45 menit, saya di dalam taksi. Sedikitnya 6 lampu merah saya singgahi. Kalau masing-masing lampu merah ”minta disinggahi” 3-5 menit, hampir setengah jam waktu terbuang. Tepat pukul 09.00, taksi sampai juga di lapas yang berada di kawasan Arcamanik ini. Setelah beres dengan urusan akomodasi taksi, saya merapat ke petugas jaga. Petugas menyarankan agar saya menuju ruang daftar pengunjung.


Begitu masuk, saya dipersilakan ambil nomer antrean kunjungan. Ternyata baru 45. Lalu saya pilih duduk di kursi barisan belakang. Sambil menunggu panggilan. Luas juga ruang daftar pengunjungnya. Mirip aula. Mata saya lalu tertuju pada baliho cukup besar di ruangan itu. Intinya menginformasikan dilarang membawa barang dan peralatan membahayakan saat besuk. Termasuk kamera dan handphone. ‘’Barang-barang silakan disimpan di locker ini,’’ kata petugas jaga yang melihat saya celingak-celinguk.


Setelah pendaftaran beres, saya dipersilakan menuju ruang tahanan. Setelah pintu ruang tahanan dibuka, saya tidak bisa langsung bezuk. Kembali dikonfirmasi. Petugas mericek surat yang sudah saya kantongi. Setelah menyerahkan kartu identitas, tangan kanan saya distempel. Berikutnya saya dikasih kalung tanda pengunjung. Komplit. Saya lantas dipersilakan menuju ruang dalam. Ruangan itu sangat luas sekali. Pikir saya, di sinilah tempat para napi bercengkerama dengan keluarga. Ternyata saya tidak meleset.


Dari ruang dalam muncul sosok yang sudah sangat saya kenal. Sudah hampir tiga tahun terakhir tidak pernah bertemu. Dialah Bambang Irianto. Mantan wali kota Madiun menyambut saya dengan pelukan. Cukup lama kami berpelukan. Bambang lalu berbisik lirih. ”Terima kasih Mas Danang,’’ kata BI sambil menggeret saya ke ruangan yang agak santai. Ruangan -- yang mirip lorong itu—sangat bersih. Kami memilih duduk di pojok. BI sepertinya ingin pertemuan kami tidak ada yang mengganggu.


Tapi apa lacur? Baru beberapa menit kami bertanya kabar masing-masing, mantan Ketua DPR RI Setya Novanto menghampiri tempat kami duduk. Dengan kemeja hitam dipadu manis celana hitam, Setnov terlihat ganteng. Apalagi sisiran rambutnya yang klimis. Gaul banget. Dan Setnov terlihat hepi. Sama sekali tidak terlihat kalau dia tengah berada di lapas. ‘’Pokoknya dijalani. Mengalir saja,’’ kata mantan Ketua Umum Partai Golkar saat saya tanya apa resepnya awet cakep.


Hampir 10 menit Setnov nimbrung. Dia tidak canggung meski baru kali pertama bertemu saya. Saat hendak meninggalkan kami, Setnov tak henti-henti mengacungkan jempolnya ke arah BI. Saat saya tanya apa maksud jempol itu, Setnov berujar. ”Pak Bambang kepala suku di sini (Lapas, Red),’’ kata Setnov.


Mendengar kalimat Setnov seperti itu, BI membalas dengan kuluman senyum. Saya hanya plonga-plongo melihat ”drama” satu babak itu. Apa maksud kepala suku tadi?  Belum sempat jawaban itu saya dapatkan, dari kejauhan mantan Kakorlantas Polri Irjen Djoko Susilo dada-dada ke arah BI. ‘’Nanti saya gabung setelah ini ya,’’ kata Djoko yang namanya sempat masuk dalam bursa calon Kapolri beberapa tahun lalu.


Saya kembali plonga-plongo. Tidak habis pikir. Dua petinggi negeri ini saja, langsung ”merapat” begitu melihat BI. Yang pertama mantan ketua DPR RI. Berikutnya jenderal bintang dua. Bukan malah BI yang menghampiri. Apa ini kaitannya dengan ”jabatan” BI sebagai kepala suku tadi? Untuk menjawab pertanyaan itu, ikuti tulisannya pada edisi besok. (*/bersambung)

Editor : Administrator
#jawa pos #radar madiun #jawa pos radar madiun #berita madiun